PENGARUH KEHIDUPAN SOSIAL BAGI ABK

BAB I

1.1 Pendahuluan

Anak luar biasa masih merupakan istilah yang dipergunakan sampai saat ini, meskipun secara perundangang dan wacana yang berkembang dewasa ini peristilahan tersebut nampaknya perlu ditinjau kembali.

Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang terbaru, peristilahan Pendidikan Luar Biasa telah diganti dengan Pendidikan Khusus. Ini mengandung konsekuensi terhadap penggunaan istilah baik kelembagaan maupun subyek peserta didik. Demikian pula halnya dengan wacana yang berkembang secara intenasional tentang peristilahan anak luar biasa, yang dewasa ini sering disebut dengan istilah special needs educational children atau anak dengan kebutuhan pendidikan khusus.

Anak luar biasa diartikan sebagai anak yang memiliki kelainan fisik, mental, emosi, sosial atau gabungan dari kelainan tersebut yang sifatnya sedemikian rupa sehingga memerlukan layanan pendidikan secara khusus.

Kebutuhan merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan motivasi. Motivasi itu akan menimbulkan gerak dan usaha untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan juga merupakan prasyarat yang harus dipenuhi apabila ingin menciptakan sesuatu yang ideal, maka tidak terlepas dari segi psikologi dan sosial.
Manusia yang ideal adalah manusia yang bisa mengembangkan potensi personal dan sosial sesuai dengan kapasitas yang tersedia dalam dirinya. Bagaimana membentuk manusia yang menyandang keluarbiasaan menjadi manusia yang ideal ?. Apa yang dibutuhkan oleh anak luar biasa sehingga ia menjadi manusia yang dapat berkembang secara optimal fotensi personal dan sosialnya ?
Apabila kita membicarakan masalah kebutuhan manusia pada umumnya maka akan terlihat bahwa manusia itu mempunyai kebutuhan dasar (basic needs) yang sama, tidak terkecuali apakah manusia itu tergolong normal atau yang mempunyai kelainan. Manusia memerlukan makan, minum, istirahat yang cukup dan udara yang segar untuk memenuhi kebutuhan fisiknya.

Pemenuhan kebutuhan fisik harus diimbangi oleh kegiatan dan aktifitas gerak yang seimbang agar timbul kesegaran jasmani yang diharapkan, kesegaran jasmani akan mempengaruhi kesegaran rohani. Kebutuhan fisiologis bagi anak luar biasa tentu saja sangat memerlukan bantuan orang lain dalam pemenuhannya. Bahkan bantuan orang lain bisa berlangsung sepanjang hidupnya sebagai akibat dari beratnya keluarbiasaan yang disandang anak.

Keterampilan gerak sangat mendukung keberhasilan anak dalam mengusahakan pemenuhan kebutuhan fisiknya. Penjas adaptif merupakan salah satu alternatif untuk membantu anak luar biasa mengoptimalkan kemampuannya di dalam gerak. Dalam penjas adaptif anak luar biasa tidak hanya belajar keterampilan motorik, lebih dari itu mereka belajar pengetahuan tentang berbagai macam aktifitas yang dapat memberikan kepuasan, mengembangkan sikap dan apresiasi terhadap berbagai aktifitas yang mereka ikuti. Mereka juga belajar bagaimana memanfaatkan waktu luang sebagai bentuk rekreasi yang dapat memberikan kesenangan baik secara fisiologis, psikologis dan sosial.

 

 

 

 

 

1.1  RumusanMasalah

  1. Apa yang dimaksuddenganKelainan Dan KehidupanSosial?
  2. Bagaimana proses Kelainan Dan KehidupanSosial?
  3. BagaimanamengelolaKelainan Dan KehidupanSosial?

 

1.2  Tujuan

  1. MengetahuimaksuddariKelainan Dan KehidupanSosial
  2. Megetahuidanmemahami proses Kelainan Dan KehidupanSosial
  3. MemberikanwawasantentangbagaimanaKelainan Dan KehidupanSosial

BAB II

PEMBAHASAN

II. KELAINAN DAN KEHIDUPAN SOSIAL

  1. Dampak Kecacatan Bagi Penyandangnya

 

  1. Jenis Kelainan / Kecacatan

 

Departemen pendidikan dan kebudayaan menggunakan istilah pendidikan luar biasa, menggunakan istilah kelompok anak berkelainan, yaitu tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan tunaganda.

 

  1. Dampak langsung dari kecacatan

 

  1. Lamban dalam berfikir dan penalaran, sukar memahami konsep, karena kemampuan intelektualnya sangat terbatas, seperti yang dialami para tunagrahita

 

  1. Mobilitasnya terganggu karena alat lokomosi rusak, tidak sempurna bentuknya, atau terganggu pusat syaraf yang terkait dengan alat lokomosinya itu, seperti pada anak tunadaksa.

 

  1. Komunikasinya terganggu karena terganggunya indera pendengaran, atau rusaknya alat bicara, pada anak tunarungu – tunawicara.

 

  1. Terganggu pembentukan konsep dan orientasi dan mobilitasnya karena rusaknya indera penglihatannya.

 

  1. Tidak dapat bergaul dengan baik karena sukar memahami norma-norma dalam pergaulan sosialnya, pada anak tunalaras.

 

  1. Gangguan Perilaku dan Kepribadian

 

  1. Dapat berkepribadian rendah diri, bahkan dapat berkembang menjadi suka mengurung diri, susah bergaul, menyendiri dan bersikap isolatif.

 

  1. Mempunyai rasa ketergantungan pada orang lain, kurang mandiri.

 

 

 

  1. Dampak Hadirnya Anak Cacat Dalam Keluarga

 

  1. Sikap keluarga terhadap hadirnya anak berkelainan

 

Lingkungan sosial pertama dan utama seorang anak adalah keluarganya. Sebagian besar sulit untuk menerima keadaan anaknya yag mengalami kelainan. Memerlukan proses yang panjang untuk menerima kenyataan. Bahkan banyak yang menolak / berkepanjangan untuk menerima bahwa anaknya yang cacat perlu tumbuh dan berkembang sebagaimana saudaranya yang lain.

 

 

 

 

 

  1. Dampak hadirnya anak cacat dalam keluarga

 

  1. Meningkatnya intensitas kehidupan emosional dalam keluarga. Sensitifitas emosi yang tinggi ini mengakibatkan keluarga menjadi rawan kestabilan.

 

  1. Tumbuh pendapat adanya semacam kegagalan dalam keluarga. Mencari sebab-sebab kegagalan tersebut. Kadang-kadang timbul sebab yang irasional. Di Indonesia semacam akibat dosa orang tua, dan sebagainya.

 

  1. Dapat mengubah struktur keluarga. Abang yang cacat menjadi lebih muda kedudukannya dari adiknya yang normal. Di Indonesia ada anak cacat yang menjadi anak bungsu neneknya.

 

  1. Tahapan penerimaan keluarga

 

  1. Tahap schock

Yaitu tahap awal berupa kaget dengan hadirnya anak cacat yang tidak pernah diharapkan. Lalu berkembang menjadi bingung, takut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

 

  1. Tahap Realization

Tahap kedua adalah tahap melihat kenyataan bahwa benar anggota keluarga ada yang cacat. Sehingga mulai berkembang keraguan terhadap kemampuan keluarga untuk menerima kenyataan ini.

 

  1. Tahap Defensif

Hasil dari meragukan kemampuan diri dapat berkembang kecenderungan lari dari kenyataan. Ada yang tumbuh rasa masa bodoh, over-protektif, atau mengusahakan penyembuhan terus menerus berkepanjangan.

 

  1. Tahap Acknowledgement

Perkembangan yang lebih positif adalah mulai tumbuh keinginan untuk memelihara, merawat, mengasuh, sehingga merasa perlu berkonsultasi dengan pihak-pihak lain yang dianggap mengetahui hal tersebut.

 

 

 

  1. Sikap Masyarakat dan Dampaknya

 

  1. Sejarah perkembangan sikap manusia

 

Sikap masyarakat terhadap adanya penyandang kelainan, beragam sesuai dengan sudut pandang yang dipengaruhi oleh tahapan pandangan manusia pada waktu itu. Pandangan hidup manusia yang berkembang, menimbulkan sikap yang bervariasi pertumbuhannya.

 

  1. Pandangan masyarakat terhadap penyandang cacat

 

  1. Masyarakat memandang anak berkelainan adalah anak yang berbeda secara kualitatif dengan anak biasa. Mereka tidak mendapat kesempatan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan tuntutan lingkungan.

 

  1. Karena tidak mendapat kesempatan memperoleh bimbingan dalam perkembangannya, masyarakat mempunyai keraguan terhadap kemampuan dan potensi dan prestasi anak berkelainan.

 

  1. Karena ragu akan kemampuan dan potensinya maka mereka dianggap sebagai obyek untuk dibelas-kasihani saja.

 

  1. Peran pemerintah dalam merubah sikap

 

  1. Mengusahakan perlindungan, dengan mengeluarkan ketentuan-ketentuan yang mendorong dan tidak bertentangan dengan hanya harapan tersebut.

 

  1. Memberikan dorongan dan bimbingan terhadap kegiatan masyarakat. Sehingga gerak masyarakat bertumbuh menjadi hal yang membantu perkembangan para penyandang cacat untuk dapat berperan dan mandiri.

 

  1. Ikut melaksanakan pelayanan terhadap usaha kesejahteraan para penyandang cacat.

 

 

  1. Usaha Mengatasi Kekeliruan Dalam Sikap Masyarakat Pada Umumnya.

 

  1. Usaha Kampanye Penyadaran

 

  1. Kegiatan seperti penyuluhan, seminar, pameran dan sebagainya yang melibatkan semua unsur, pemerintah maupun non pemerintah.

 

  1. Kegiatan yang terprogram mengenai beberapa hal yang sifatnya komprehensif terkoordinir seperti : kegiatan diteksi dan interfensi dini terhadap permasalahan penyadang cacat, kampanye aksesbiliti.

 

  1. Memanfaatkan kesempatan yang dikembangkan seperti:

 

-          Tahun Internasional Penyandang Cacat (1981)

-          Dekade Penyandang Cacat Asia-Pasifik (1993-2003)

-          Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (21 Desember)

 

  1. Keterpaduan gerak dan pandang antara organisasi pemerintah dan non pemerintah

 

(Depsos, Depkes, Depdikbud, Depnaker, Deperin, Deppen, Depdagri/Pemda, Menteri kependudukan dan sebagainya) dengan (orsos-orsos yang menangani penyandang cacat dan orses/ormas penca sendiri).

 

 

 

III. USAHA REHABILITASI DAN PELAYANAN SOSIAL

  1. A.    JENIS-JENIS REHABILITASI
  2. Rehabilitasi Medik

Usaha rehabitasi medic umumnya dikerjakan oleh Depkes atau petugas kesehatan yang khusus menangani pelatihan pasca penyembuhan agar penyandang kecacatan secara berangsur dapat berlatih memfungsikan kembali anggota tubuhnya yang mengalami kelainan, pemberian alat bantu (seperti alat bantu lokomosi, alat bantu dengar, alat bantu penglihatan) atau pemberian kosmetik-protestik.

  1. Rehabilitasi Edukasional

Yaitu rehabilitasi melalui pendidikan. Misalnya yang dilakukan oleh sekolah-sekolah PLB, Panti-panti sosial yang memberikan pendidikan umum.

  1. Rehabilitasi Vokasional

Yaitu kegiatan yang mengarahkan pelatihan-pelatihan kerja agar penyandang-penyandang cacat dapat bekerja kembali dalam rangka melaksanakan fungsi sosialnya.

  1. Rehabilitasi Sosial

Yaitu semua kegiatan yang diarahkan agar penyandang cacat dapat melaksanakan atau kembali fungsi sosialnya dalam masyarakat, baik dalam pergaulan, hidup dan kegiatan kehidupan sehari-hari maupun bekerja untuk membiayai hidupnya.

 

  1. B.     PERATURAN PERUNDANGAN MENYANGKUT KEGIATAN REHABILITASI SOSIAL.

Sebanarnya persoalan peraturan perundangan menyangkut kegiatan rehabilitasi sosial sudah dibahas dalanm pembukaan UUD 1945 alenia IV (Mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Selain itu pemerintah juga mengeluarkan peraturan, yaitu :

  1. PP No. 36 tahun 1980, tentang Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS) bagi penyandang cacat.
  2. PP No. 39 tahun 1983, tentang koordinasi dalam penanganan penyandang cacat.

 

 

  1. C.    INSTASI YANG MEMBINA USAHA REHABILITASI SOSIAL PENCA.
  2. Kantor Pusat Departemen Sosial.
  3. Kantor Wilayah Departemen Sosial Propinsi.
  4. Pada Kantor Kecamatan ditempatkan seorang PSK (Penilik Sosial Kecamatan).
    1. D.    INSTITUSI (LEMBAGA) PELAYANAN REHABILITASI PENCA.
    2. Jenis Pelayanan Rehabilitasi Oleh Depsos :
      1. Rehabilitasi Dalam Panti.
      2. Rehabilitasi Luar Panti.
      3. Rehabilitasi Melalui LIPOSOS (Lingkungan Pondok Sosial).
        1. E.     PROGRAM KEGIATAN DALAM RANGKA USAHA REHABILITASI SOSIAL.
      4. Yang dilakukan dalam panti sosial cacat meliputi :
        1. Pelaksanaan rehabilitasi sosial
        2. Memberikan pelayanan penunjang, seperti pengasramaan anak cacat yang bersekolah, kuliah, dsb.
      5. Sedangkan yang bergerak di luar panti meliputi :
        1. Pendataan.
        2. Penggalian dan pendayagunaan sumber dana.
        3. Penyuluhan sosial.
        4. Pemeriksaan medik.
        5. Pelatihan-pelatihan.
        6. Sarasehan sosial.
          1. F.     REHABILITASI BERBASISKAN MASYARAKAT

Istilah Rehabilitasi Berbasiskan Masyarakat, terjemahan dari istilah Community Based Rehabilitation(CBR), suatu kegiatan yang digerakkan secara internasional dalam rangka meningkatkan mutu dan keluasan jangkauan usaha rehabilitasi.

Sedangkan pengertian RBM sendiri adalah rehabilitasi sosial yang dilaksanakan di dalam keluarganya atau masyarakatnya yang bertujuan merubah perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk dapat berperan aktif secara optimal dalam upaya kesejahteraan sosial bagi penyandang cacat dengan menggunakan sumberdaya dan potensi masyarakat dengan koordinasi dan kerjasama anatara swasta (partisipasi masyarakat) dan pemerintah.

IV. ORGANISASI SOSIAL, PEKERJA SOSIAL, DAN ORGANISASI PENYANDANG CACAT

Dalam pelaksanaan usaha rehabilitasidan pelayanan sosial para penyandang cacat peran serta masyarakat melalui organisasi sosial/lembaga swadaya masyarakat, perorangan yang termasuk pekerja sosial masyarakat, relawan, maupun organisasi penyandang cacat cukup besar.

  1. A.    ORGANISASI SOSIAL/LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (ORSOS/LSM)

Organisasi sosial ada yang langsung bergerak secara oprasional dalam pelayanan dan usaha rehabilitasi penyandang cacat, ada yang sifatnya membantu koordinasi tugasnya, organisasi sosial dibagi menjadi 3, yaitu :

  1. Orsos Pelayanan Oprasional.
    1. Orsos Tingkat Nasional.
    2. Orsos Tingkat Propinsi.
    3. Orsos Tingkat Kabupaten.
    4. Orsos Koordinasi.
      1. Orsos Koordinasi UKS Tingkat Nasional.
      2. Orsos Koordinasi UKS Tingkat Propinsi.
      3. Orsos Koordinasi UKS Tingkat Kabupaten/Kodya.
      4. LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa)

Pada LKMD ada komisi IX yang tugasnya melaksanakan usaha dan koordinasi UKS pada tingkat desa. Orsos sebagai lembaga swadaya masyarakat hendaknya dapat melaksanakan fungsinya secara swadaya mandiri, mengikuti ketentuan yang diatur oleh pemerintah.

  1. B.     PEKERJA SOSIAL, PEKERJA SOSIAL MASYARAKAT, RELAWAN SOSIAL.
    1. Pekerja Sosial

Pekerja sosisal adalah peristilahan yang diberikan kepada profesi (pekerja khusus) terjemahan dari “social worker”. Pekerja sosial adalah jabatan fungsional yang diberikan kepada yang memenuhi syarat pendidikan/pengalaman.

  1. Pekerja Sosial Masyarakat

Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) adalah tenaga yang direkrut dari masyarakat langsung. Yaitu mereka yang mempunyai pengabdian untuk membuktikan dirinya secara sukarela dalam upaya-upaya untuk kegiatan kesejahteraan sosial di desa, kelurahan dan kecamatan.

  1. Relawan Sosial

Relawan sosial adalah relawan yang mengabdi dengan sukarela tanpa digaji.

 

  1. C.    ORGANISASI PARA PENYANDANG CACAT

Salah satu hasil kesempatan mengikuti pendidikan dan usaha rehabilitasi lahirlah intelektual dan cendikiawan dari kalangan cacat. Mereka menyadari bahwa untuk memperjuangkan nasibnya mereka perlu berorganisasi. Organisasi para penyandang cacat sudah tidak begitu bervariasi pada saat ini. Artinya tanpa ada penyederhanaan. Contoh-contoh organisasi bagi para penyandang cacat di Indonesia adalah sebagai berikut :

  1. PERTUNI (Persatuan Tunanetra Indonesia). Organisasi untuk para tunanetra.
  2. GERKATIN (Gerakan Kaum Tunarungu Indonesia). Organisasi untuk para tunarungu.
  3. Korps Cacat Veteran. Organisasi untuk para cacat veteran.
  4. FKPCTI (Federasi Kesejahteraan Cacat Tubuh Indonesia). Organisasi untuk para tunadaksa.

Para penyandang tunagrahita tidak dapat berorganisasi sendiri, tentu ada organisasi yang mewakili mereka.

Ada organisasi payung untuk organisasi para penyandang cacat, yaitu PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia).

  1. D.    ORGANISASI BIDANG OLAH RAGA KEBUDAYAAN
    1. SO-Ina.
    2. BPOC/YPOC.
    3. PORTURIN.
    4. HISPELBI.
    5. HIPSI.
    6. E.     ORGANISASI INTERNASIONAL
      1. R.I.
      2. DPI.
      3. SOI.
      4. FESPIC.
      5. HKI International.
      6. CBM.
      7. Dll .

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s