LEMBAR IDENTIFIKASI PROGRAM MEDIA REKAMAN AUDIO SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

01. NOMOR                            :
02. MATA AJARAN              : IPA
03. SERI PROGRAM             : Audio streaming
04. POKOK BAHASAN         : Mengenal berbagai macam hewan
05. SUBPOKOK BAHASAN :
  1. Mengenal nama hewan yang ada di sekitarnya melalui suaranya.
  2. Menyebutkan nama hewan melalui suaranya .
  3. Mendeskripsikan hewan yang ada disikitarnya melalui lagu mengenal hewan.
06. TOPIK                               : Hewan
07. KHALAYAK/SASARAN: Anak Autis
08. DURASI                    : 2×15 menit;
09. PENULIS NASKAH:
10. PENGKAJI NASKAH:

11.

PENGKAJI MEDIA:
12 PENGARAH PRODUKSI MEDIA:

13.

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM: Siswa dapat mengenal berbagai macam hewan melalui suaranya
14. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS:              :
  1. Dengan mendengarkan audio siswa dapat menyebutkan nama hewan yang ada disekitarnya
  2. Dengan mendengarkan audio siswa dapat menuliskan nama hewan yang ada disekitarnya
  3. Denagn mendengar lagu tentang mengenal hewan siswa dapat mendiskripsikan hewan dari suara yang didengar
15. KERANGKA MATERI
  1. Mengenalkan nama hewan yang ada disekitarnya
  2. Mengenalkan suara hewan melalui audio
  3. Mendiskripsikan hewan berdasarkan suaranya
16. SINOPSIS Dengan menggunakan program audio streaming ini adalah untuk menguji keefektifan belajar anak autis …………. Program ini digunakan dalam kelompok belajar anak autis. Sebagai mana dapat diketahui minat belajar anak tersebut dengan program audio streaming.
17. TREATMENT Melakukan pengenalan hewan – hewan dengan suara yang jelas sebagai penunjuk objek. Audio diputar selama 2×15 menit. Dimaksudkan agar pemahaman anak lebih maksimal. Di dalamnya disertakan dengan contoh gambar hewan untuk mempermudah pemahaman anak. Selajutnya disertakan juga latihan menulis dan mendeskripsikan nama hewan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman anak terhadap materi yang diberikan.

RINCIAN SKRIP:

NO

RINCIAN TEKNIS AUDIO

RINCIAN VERBAL AUDIO

Pembukaan :Music pembuka (pengkondisian siswa)Lagu mengenal hewan
Selingan musik Ayo mulai belajar mengenal hewan.(siswa memperhatikan)
Mulai mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio
(suara latar)
Menyebutkan berbagai macam hewan : ayam, burung, kambing, kodok, bebek, anjing, dan sapi.
Mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio
(suara latar)
“kukuruyuk”
(hayo suara apa )
jawaban : suara ayam
Mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio (suara latar). “cuitcuitcit”
(hayo suara apa )
jawaban : suara burung
Mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio (suara latar). “embekembekeek”
(hayo suara apa )
jawaban : suara kambing
Mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio (suara latar). “krokkrok”
(hayo suara apa )
jawaban : suara kodok
Mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio (suara latar).  “wekwekwek”
(hayo suara apa )
jawaban : suara bebek
Mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio (suara latar). “gukgukguk”
(hayo suara apa )
jawaban : suara anjing
Mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio (suara latar). “moomoo”
(hayo suara apa )
jawaban : suara sapi
Mengenal hewan dengan mendengar suara hewan dari audio (suara latar). “meong meong”(hayo suara apa)Jawaban: suara kucing
Menyanyi lagu tentang hewan untuk mendeskripsikan jenis hewan(suara latar) Cit..cit cuit..cit..cit..cuit
Burung bernyanyi tok..tok..tok
Peto..tok..tok..tok..petok ayam
Bertelur..wek..wek..wek..kowek
Wek..wek..wwek..kowek bebek
Berenang sapi berendam
Kambingpun ikut senangAyo hai kawan jagalah
Satwa macan, kijang, gajah
Juga harus dijaga jangan
Ditembak jangan diburu
Lindungilah semua satwa
Ciptaan Tuhan
Pertanyaan mendeskripsikan berbagai jenis hewan(suara latar) Contoh :Aku berkaki empat, mempunyai bulu yang lembut, dan suaraku “meong-meong”, siapakah aku?Jawab : Kucing
Hasil belajar(suara latar) Karena kalian menjawab dengan benar, maka kalian mendapat nilai A(applause)
Penutup Sebelum pulang mari kita berdoa bersama kemudian menyanyikan lagu cit cit cuit bersama. (menyanyi lagu cit cit cuit)

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB AUTISME


Sampai saat ini para ahli belum menentukan penyebab pasti mengapa seorang anak menjadi autisme. Beberapa ahli berpendapat autisme merupakan sindroma yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti:

  1. a.       Faktor genetik

Ada bukti kuat yang menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme. Menurut National Institute of Health, keluarga yang memiliki satu anak autisme memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autisme. Penelitian pada anak kembar menemukan, jika salah satu anak autis, kembarannya kemungkinan besar memiliki gangguan yang sama. Secara umum para ahli mengidentifikasi 20 gen yang menyebabkan gangguan spektrum autisme. Gen tersebut berperan penting dalam perkembangan otak, pertumbuhan otak, dan cara sel-sel otak berkomunikasi.

 

  1. b.      Kelainan otak

Adanya kerusakan atau berkurangnya jumlah sel syaraf yang disebut sel purkinye. Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti dopamin dan serotonin, di otak juga dihubungkan dengan autisme

 

  1. c.       Kelainan Neurotransmitter

Terjadi karena impuls listrik antar sel terganggu alirannya. Neurotransmitter yang diduga tersebut adalah serotine (kadarnya tinggi dalam darah ± 30% penyandang autisme) dan dopamine (diduga rendah kadar darahnya pada penyandang autisme)

 

  1. d.      Kelainan Peptida di otak

Dalam keadaan normal, glutein (protein gandum) dan kasein (protein susu) dipecah dalam usus menjadi peptida dan asam amino. Sebagian kecil peptida tersebut diserap di usu dan kemudian beredar dalam darah. Bila berlebihan akan dikeluarkan melalui urin dan sebagian lainnya akan disaring kembali saat melewati batang otak sehingga yang masuk kedalam otak hanya sedikit (khususnya gliadorphin, turunan peptida glutein dan casomordophin turunan pepsida kasein)

 

  1. e.       Komplikasi saat hamil dan persalinan

komplikasi yang terjadi seperti pendarahan pada trimester pertama yaitu janin yang disertai terispnya cairan ketuban yang ebrcampur feses dan obat-obatan yang diminum ibu selama masa kehamilan.

 

  1. f.       Kekebalan tubuh.

Terjadi karena kemungkinan adanya interaksi gangguan kekebalan tubuh (autoimun) dengan faktor lingkungan yang menyebabkan autisme.

 

  1. g.      Kerusakan Syaraf

Kerusakan syaraf yang terjadi pada anak autisme menyebabkan ia tidak bisa membuang kelebihan merkuri yang ada dalam tubuhnya. Akibat ketidakmampuan mereka untuk membuang merkuri, pada anak autisme ditemukan kadar merkuri yang melebihi ambang batas. Kondisi ini mengganggu fungsi syaraf-syaraf otaknya, terutama syaraf yang berkaitan dengan kemampuan sosialisasi. Tingginya kadar merkuri bisa dilihat melalui pemeriksaan urine dan rambut.

 

  1. h.      Vaksinasi
    Ada jenis vaksinasi yang diduga mengandung kadar merkuri tinggi. Beberapa kasus autisme terjadi setelah anak mendapatkan vaksinasi tertentu. Tanyakan pada dokter anak Anda mengenai hal ini.

 

  1. i.        Virus
    Ada kemungkinan, virus rubella dan Cytomegalo virus yang menginfeksi ibu hamil pada trimester pertama bisa meyebabkan resiko anak terkena autisme.

 

  1. j.        Gangguan sususan saraf pusat

Ditemukan kelainan neuroanatomi (anatomi susuan saraf pusat) pada beberapa tempat di dalam otak anak autis. Banyak anak autis mangalami pengecilan otak terutama pada lobus VI-VII. Seharusnya di lobus VI-VII banyak terdapat sel purkinje. Namun pada anak autis jumlah sel purkinje sangatlah kurang. Akibatnya, produksi serotinin kurang, menyebabkan kacaunya prosses penyaluran informasi antar otak. Selain itu ditemukan kelainan strutur pada pusat emosi di dalam otak sehingga emosi anak autis sering terganggu. Penemuan ini membantu dokter menemukan obat yang tepat. Obat-obatan yang banyak dipakai adalah jenis psikotropika, yang bekerja pada susunan saraf pusat. Hasilnya menggembirakan karena dengan mengonsumsi obat-obatan ini pelaksanaan terapi lainny lebih mudah. Anak lebih mudah diajak bekerja.

MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK ANAK AUTIS

  1. A.    Mata Pelajaran                            : Kerajinan Tangan dan Kesenian

 

  1. B.     Kompetensi Dasar                       : Mengenal berbagai bahan, alat dan cara pembuatan

  benda terapung di air

  1. C.    Indikator                                      :
  • Kognitif

Proses :  Melihat benda terapung yang dapat di air

Produk : Menyebutkan macam-macam benda yang dapat terapung di air

 

  • Afektif :

Mengajukan pertanyaan tentang  pembuatan benda yang dapat terapung di air

Perilaku berkarakter : Disiplin ( Discipline ), Rasa hormat dan perhatian ( respect ), Tekun ( diligence ) , Tanggung jawab ( responsibility ) Dan Ketelitian ( carefulness)

 

  • Psikomotor :

Membuat model mainan yang dapat terapung di air buatan sendiri

 

  1. D.    Tujuan Pembelajaran     :
  • Siswa dapat menyebutkan macam-macam benda terapung di air
  • Siswa dapat membuat model mainan yang dapat terapung di air
  • Siswa dapat menceritakan hasil pengamatan benda-benda mainan yang dapat terapung di air

 

  1. E.     Motode Pembelajaran                :Metode pembelajaran langsung

 

  1. F.     Media Pembelajaran                   : Perahu dari kertas

 

  1. G.    Materi                                           : Berbagai bahan, alat dan cara pembuatan model benda

mainan yang  terapung di air

 

  1. H.    Alat Yang Dibutuhkan   :
  • Bahan :

–          kertas,

–          gunting,

–          lem

–           lilin

–           sabun colek

–           lidi

  • Cara pembuatan :

 

 

 

  1. I.       Proses Jalannya Media   :
  • Kegiatan awal :

Apresepsi/ Motivasi :

Berdoa, mempersiapkan materi ajar, model dan alat peraga.

 

  • Kegiatan inti

ü  Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

–          Menerangkan kepada siswa tentang alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan perahu kertas

–          Memberikan contoh kepada siswa tentang cara pembuatan

–          Mengamati dan membimbing siswa membuat perahu dari kertas

–          Siswa membuat perahu dari kertas dengan baik

–          Melakukan percobaan media yang telah di buat dapat terapung di air

 

ü  Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

–          Melakukan tanya jawab tentang mengapa benda dapat terapung diair

–          Mempresentasikan hasil karyanya

 

ü  Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

–           Menjawab pertanyaan siswa

–          Memberikan penjelasan tentang benda yang dapat terapung di air

–          Memberikan penguatan dan penyimpulan

 

  • Kegiatan akhir

Dalam kegiatan akhir, guru:

–          Membuat kesimpulan dari tiap materi yang disampaikan

–          Memberikan pujian kepada siswa atas hasil kerjanya

GANGGUAN YANG ADA DI RESEPTOR

 

  1. a.      Mata

Kelainan penglihatan itu antara lain sebagai berikut.

  • Mata miop (miopi)

Miopi atau mata dekat adalah cacat mata yang disebab-kan
lensa mata terlalu cembung sehingga bayangan jatuh di depan bintik
kuning (retina). Miopi disebut pula rabun jauh, karena tidak dapat
melihat jauh. Penderita miopi hanya mampu melihat jelas pada jarak
yang dekat. Untuk membantu penderita miopi, sebaiknya memakai
kaca mata berlensa cekung (negatif).

  • Mata hipermetrop (hipermetropi)

Hipermetropi atau mata jauh adalah cacat mata yang
disebabkan lensa mata terlalu pipih sehingga bayangan jatuh di
belakang bintik kuning. Hipermetropi disebut pula rabun dekat,
karena tidak dapat melihat dekat. Penderita hipermetropi hanya
mampu melihat jelas pada jarak yang jauh. Untuk membantu
penderita hipermetropi, dipakai kacamata lensa cembung (lensa
positif).

  • Mata presbiop (presbiopi)

Presbiopi umumnya terjadi pada orang berusia lanjut.
Keadaan ini disebabkan lensa mata terlalu pipih dan daya akomodasi
mata sudah lemah sehingga tidak dapat memfokuskan bayangan
benda yang berada dekat dengan mata. Gangguan mata seperti itu
dapat dibantu dengan memakai kacamata berlensa rangkap.
Di bagian atas kacamata dipasang lensa cekung untuk
melihat benda yang jauh, sedangkan di bagian bawahnya dipasang
lensa cembung untuk melihat benda dekat.

  • Mata astigmatisma

Mata astigmatisma adalah cacat mata yang disebabkan
kecembungan kornea tidak rata, sehingga sinar sejajar yang datang
tidak dapat difokuskan ke satu titik. Untuk membantu penderita
astigmatisma dipakai kacamata silindris.

  • Hemeralopi (rabun senja)

Hemeralopi adalah gangguan mata yang disebabkan kekurangan
vitamin A. Penderita rabun senja tidak dapat melihat dengan
jelas pada waktu senja hari. Keadaan seperti itu apabila dibiarkan
berlanjut terus mengakibatkan kornea mata bisa rusak dan dapat
menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu, pemberian vitamin A yang
cukup sangat perlu dilakukan.

  • Katarak
    Katarak adalah cacat mata yang disebabkan pengapuran pada
    lensa mata sehingga penglihatan menjadi kabur dan daya akomodasi
    berkurang. Umumnya katarak terjadi pada orang yang telah lanjut
    usia.
  • Buta warna

Buta warna merupakan gangguan penglihatan mata yang
bersifat menurun. Penderita buta warna tidak mampu membedakan
warna-warna tertentu, misalnya warna merah, hijau, atau
biru. Buta warna tidak dapat diperbaiki atau disembuhkan

 

  1. Hidung
  • Rinosinusitis,

Hidung mempunyai peranan penting bagi tubuh manusia terutama dalam fungsi penciuman dan pernapasan. Sama seperti bagian tubuh lainnya, hidung juga tidak luput dari berbagai penyakit. Salah satu gangguan seputar hidung adalah sinusitis. Meskipun sebagian besar tidak membahayakan namun dapat mempengaruhi dan mengganggu kualitas hidup. Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus (rongga) yang terjadi karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Umumnya gangguan pada sinus hampir selalu berhubungan dengan gangguan hidung, sehingga kini lebih dikenal dengan istilah rinosinusitis.
Berdasarkan klasifikasi terbaru dari AAAI (American Academy of Allergy, Asthma and Immunology), rinosinusitis terbagi menjadi 2 golongan :

  1. Rinosinusitis Akut

Ciri-ciri : gangguan ini berlangsung kurang dari 12 minggu. Biasanya terjadi 4 kali dalam setahun. Tapi biasanya, setelah diterapi selaput pada hidung bisa kembali normal

  1. Rinosinusitis Kronis

Ciri-cirinya : Gangguan ini berlangsung lebih dari 12 minggu. Dalam setahun bisa terjadi 4 kali dan selaput atau mukosa tidak dapat kembali normal.

Penyebab

Penyebab rinosinusitis bisa bermacam-macam. Pada rinosinusitis biasanya disebabkan oleh penyakit asma, alergi dan gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir. Sementara rinosinusitis akut, dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, jamur, peradangan menahun pada saluran hidung, penyakit tertentu seperti gangguan sistem kekebalan dan kelainan sekresi lendir.

Gejala
Gejala khas kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika penderita bangun pada pagi hari. Sementara gejala lainnya adalah demam, rasa letih, lesu, batuk dan hidung tersumbat ataupun berlendir. Gigi berlubang juga dapat menyebabkan sinusitis terutama jika lubang terdapat pada gigi geraham atas. Akar pada gigi geraham atas dapat menembus sampai ke dasar sinus maksilaris sehingga infeksi pada gigi dapat menjalar ke rongga sinus.

Cara mengatasi

Biasanya penderita sinusitis akan diberikan obat berupa antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri dan pereda rasa nyeri. Terapi obat ini dilakukan minimal 2 minggu. Untuk mengurangi penyumbatan dan peradangan, bisa juga diberikan obat semprot hidung yang mengandung streoid atau dekongestan.

Jika dalam 2 minggu perawatan dengan terapi obat tidak membaik, maka harus dilakukan foto rontgen sinus atau CT Scan untuk melihat perluasan penyakitnya.

Sebagai tambahan ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, seperti :

  1. Tinggal di dalam ruangan dengan temperatur yang sama
  2. Menghirup uap dari semangkok air panas
  3. Obat semprot hidung yang mengandung larutan garam
  4. Kompres hidung di daerah sinus yang mengalami gangguan
  5. Hindari posisi membungkuk dengan kepala tertunduk, karena gerakan ini bisa meningkatkan rasa sakit

 

  1. c.       Telinga

Gangguan pendengaran selain terjadi akibat gangguan pada sistem saraf, dapat juga terjadi akibat adanya pengerasan. Manusia umumnya hanya dapat mendengar bunyi dengan frekuensi dari 20 – 20.000 Hertz (Hertz = ukuran satuan getaran). Gangguan alat pendengaran bisa merupakan kerusakan yang permanen karena tidak dapat dibantu oleh alat bantu pendengaran. Kerusakan permanen dapat disebabkan oleh gendang telinga (selaput Timpani) pecah, saraf pendengaran putus atau sudah tidak sensitif, pusat saraf di otak rusak, dan rusaknya tulang martil, tulang landasan, atau tulang sanggurdi. Sementara itu, gangguan yang lebih ringan pada alat pendengaran dapat terjadi karena infeksi pada bagian telinga, kotoran menumpuk, dan cairan limfa di saluran rumah siput tidak normal (misalnya terlalu pekat).

Otitis Radang telinga atau otitis,  adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dan rongga mulut), antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.
Tuli, merupakan gangguan pendengaran karena kerusakan saraf pendengaran, infeksi bakteri, atau jamur. Tuli merupakan gejala utama radang telinga (otitis). Gendang telinga terlihat utuh, namun tertarik/retraksi,suram, kuning kemerahan, atau keabu-abuan.

 

  1. d.      Lidah

Gangguan pengecapan dapat terjadi jika lidah sebagai indra pengecap mengalami gangguan. Gangguan dapat berupa timbulnya bercak-bercak putih yang menutupi puting pengecap pada lidah, sehingga rasa dari makanan tidak masuk dengan sempurna dalam puting pengecap. Bercak putih biasanya berupa kumpulan bakteri yang dapat timbul akibat panas dalam, akibat suka mengkonsumsi makanan atau minuman yang terlalu dingin atau terlalu panas atau kurang rutin dibersihkan.

–          Oral candidosis : Penyebabnya adalah jamur yang disebut candida albicans.. gejalanya lidah akan tampak tertutup lapisan putih yang dapat dikerok.

–          Atropic glossitis. Penyakit ini juga sering ditemukan. Lidah akan terlihat licin dan mengkilat baik seluruh bagian lidah maupun hanya sebagian kecil. Penyebab yang paling sering biasanya adalah kekurangan zat besi. Jadi banyak didapatkan pada penderita anemia.

–          Geografic tongue. Lidah seperti peta, berpulau-pulau. Baik banyak maupun sedikit. Bagian pulau itu berwarna merah dan lebih licin dan bila parah akan dikelilingi pita putih tebal.

–          Fissured tongue. Lidah akan terlihat pecah-pecah. Kadang garis hanya satu ditengah, kadang juga bercabang-cabang.

–          Glossopyrosis. Kelainan ini berupa keluhan pada lidah dimana lidah terasa sakit dan panas dan terbakar tetapi tidak ditemukan gejala apapun dalam pemeriksaan. Hal ini kebanyakan karena psikosomatis dibandingkan dengan kelainan pada syaraf.

 

  1. e.       Kulit

Gangguan kulit akan mempengaruhi kerja ujung saraf yang terdapat pada kulit. Gangguan kulit biasanya kita rasakan sebagai rasa gatal. Gangguan tersebut dapat berupa panu, kudis, kurap atau borok. Penyakit ini biasanya ditimbulkan oleh bakteri atau jamur yang bersifat parasit pada kulit kita. Jamur atau bakteri menjadikan jaringan kulit sebagai tempat tinggal sekaligus sebagai sumber makanannya. Untuk menghilangkan penyakit kulit dapat digunakan antibiotik atau fungisida, namun alangkah lebih baik jika kita mencegahnya dengan pola hidup yang bersih.

–          Eksim atau dermatitis merupakan gangguan pada kulit yang disebabkan oleh alergi, stres bawaan, ataupun kontak dengan penyebab iritasi.

–          Panu dan kurap merupakan gangguan pada kulit yang disebabkan oleh jamur. Jamur ini biasanya tumbuh di daerah lipatan-lipatan kulit yang dipicu oleh kelembapan. Gejala yang tampak pada gangguan kulit ini antara lain gatal-gatal bersisik, berwarna putih (panu) dan kemerahan (kurap).

–          Kusta merupakan kelainan pada kulit yang disebabkan oleh Micobacterium leprae. Gejalanya terdapat benjol-benjol kecil berwarna merah muda atau ungu pada kulit. Benjolan ini dapat menyebar secara berkelompok hingga sampai ke mata dan hidung serta menyebabkan pendarahan.

 

GANGGUAN YANG ADA DI SENSORIK

Pada umumnya sensorik dasar manusia terdiri dari perabaan, pendengaran, penciuman, penglihatan, pengecapan, propioseptif (gerak antar sendi) dan vestibuler (keseimbangan).

 

Sensorik perabaan

Input yang didapatkan berasal dari reseptor di kulit yang bisa berupa sentuhan, tekanan, suhu, rasa sakit dan gerakan bulu-bulu atau rambut.

Jika sensorik perabaan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  • Tidak mau atau tidak suka disentuh
  • Menghindari kerumunan orang
  • Tidak menyukai bahan-bahan tertentu
  • Tidak suka rambutnya disisir
  • Bereaksi berlebihan terhadap luka kecil
  • Tidak betah dengan segala hal yang kotor.

Sensorik pendengaran

Input yang didapatkan berasal dari suara-suara di luar tubuh Jika sensorik pendengaran mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  • Mudah teralih perhatiannya ke suara-suara tertentu yang bagi orang lain dapat diabaikan
  • Takut mendengar suara air ketika menyiram toilet, suara vaccum cleaner, hair dryer, suara gonggongan anjing dan bahkan suara detik jam
  • Menangis atau menjerit berlebihan ketika mendengar suara yang tiba-tiba
  • Senang mendengar suara-suara yang terlalu keras
  • Sering berbicara sambil berteriak ketika ada suara yang dia tidak sukai.

Sensorik penciuman

Input yang didapatkan berasal dari aroma atau bau yang tercium. Jika sensorik penciuman mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  • Reaksi berlebihan terhadap bau tertentu seperti bau kamar mandi atau peralatan kebersihan
  • Menolak masuk ke suatu lingkungan karena tidak menyukai baunya
  • Tidak menyukai makanan hanya karena baunya
  • Selalu menciumi barang-barang atau orang disekitarnya
  • Sulit membedakan bau.

Sensorik penglihatan

Input yang didapatkan berupa warna, cahaya dan gerakan yang ditangkap oleh mata. Jika sensorik penglihatan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  • Menangis atau menutup mata karena terlalu terang karena ia terlalu peka dengan sinar terang
  • Mudah teralih oleh stimulus penglihatan dari luar
  • Senang bermain dalam suasana gelap
  • Sulit membedakan warna, bentuk dan ukuran
  • Menulis naik turun di kertas tanpa garis.

Sensorik pengecapan

Inputnya didapatkan dari semua hal yang masuk ke mulut dan juga lidah. Jika sensorik pengecapan mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  • Suka memilih-milih makanan (picky eater), menolak mencoba makanan baru sehingga lebih senang dengan makanan yang itu-itu saja
  • Tidak suka atau menolak untuk sikat gigi
  • Suka mengemut makanan karena ada kesulitan dengan mengunyah, menghisap dan menelan
  • Mengiler
  • Sering memasukkan barang-barang ke mulut.

Sensorik propioseptif (gerak antar sendi)

Input yang didapatkan berupa gerakan otot dan sendi, akibat adanya tekanan sendi atau gerakan tubuh. Jika sensorik propioseptif mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  • Senang aktivitas lompat-lompat
  • Suka menabrakkan atau menjatuhkan badan ke kasur atau orang lain
  • Sering terserimpet kaki sendiri atau benda sekitar
  • Sering menggertak gigi
  • Pensil patah saat menulis karena terlalu kuat memberikan tekanan
  • Terlihat melakukan segala sesuatu dengan kekuatan panuh.

Sensorik vestibular (keseimbangan)

Input yang didapatkan dari organ keseimbangan yang berada di telinga tengah atau perubahan gravitasi, pengalaman gerak dan posisi di dalam ruang.
Jika sensorik vestibular mengalami gangguan bisa ditunjukkan dengan gejala:

  • Menghindari mainan ayunan, naik turun tangga dan perosotan
  • Tidak suka atau menghindari naik eskalator
  • Takut dengan ketinggian
  • Senang diayun sampai tinggi
  • Senang dilempar ke udara.

 

GANGGUAN YANG ADA DI MEDULA SPINALIS

Sebagai jaringan yang hidup, medula spinalis memerlukan persediaan darah yang mengandung oksigen yang memadai. Jika terjadi gangguan pada aliran darah ke medula spinalis maka akan fungsi dari medula spinalis akan terganggu.

  • Penyebab
    Berkurangnya aliran darah ke medula spinalis jarang terjadi karena aliran darah ke sana sangat banyak.

Gangguan aliran darah ke medula spinalis bisa terjadi jika terdapat penekanan pada arteri dan vena yang dapat disebabkan oleh:

–          Tumor

–          Ruptur diskus

–          Aterosklerosis atau bekuan darah (sangat jarang).

Daerah yang paling peka terhadap terjadinya gangguan aliran darah ini adalah daerah dada bagian atas.

  • Gejala
    Gangguan aliran darah ke bagian depan medula spinalis biasanya menyebabkan nyeri punggung yang terjadi secara tiba-tiba. Nyeri ini diikuti oleh kelemahan dan ketidakmampuan untuk merasakan panas, dingin atau nyeri di sebelah bawah bagian yang aliran darahnya terganggu.nJika aliran darah ke bagian belakang medula spinalis juga terganggu, maka akan terjadi kelainan perabaan, tidak mampu merasakan getaran dan tidak mampu merasakan letak kaki dan tungkainya tanpa harus melihat kaki dan tungkainya.
  • Diagnosa
    Gangguan aliran darah ke bagian depan medula spinalis biasanya menyebabkan nyeri punggung yang terjadi secara tiba-tiba. Nyeri ini diikuti oleh kelemahan dan ketidakmampuan untuk merasakan panas, dingin atau nyeri di sebelah bawah bagian yang aliran darahnya terganggu. Jika aliran darah ke bagian belakang medula spinalis juga terganggu, maka akan terjadi kelainan perabaan, tidak mampu merasakan getaran dan tidak mampu merasakan letak kaki dan tungkainya tanpa harus melihat kaki dan tungkainya.
  • Pengobatan
    Pembedahan dilakukan untuk mengatasi penekanan karena adanya tumor atau ruptur diskus, sehingga aliran darah dapat diperbaiki. Jika aliran darah segera diperbaiki, maka kemungkinan akan terjadi penyembuhan parsial dan jarang terjadi penyembuhan sempurna.

ADHD

ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Gangguan ini telah terlihat sejak masa kanak-kanak, dan dapat dianalisa langsung oleh ahli perkembangan anak (psikolog). Gangguan ini berdampak pada cara anak berpikir, bertindak dan merasa.

  1. A.        Penyebab timbulnya ADHD

Hingga saat ini penyebab ADHD belum dapat dipastikan. Terdapat berbagai teori tentang penyebab ADHD, sebuah teori mengasumsikan konsumsi gula atau zat aditif yang berlebihan dalam makanan sebagai penyebabnya. Sedangkan teori yang lain menyatakan bahwa faktor genetis adalah penyebab utama. Dan ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwa penyebab timbulnya ADHD ada beberapa factor, baik karena 1 faktor maupun gabungan dari beberapa factor, seperti faksinasi MMR, inveksi candida, ketidak seimbangan neurotransmitter dan  keracunan logam berat.

  1. B.       Gejala awal ADHD

ADHD dapat ditengarai sejak anak berusia sangat kecil. Pada bayi, gejala yang nampak, adalah:
• Terlalu banyak bergerak, sering menangis, dan pola tidurnya buruk
• Sulit makan/minum
• Selalu kehausan
• Cepat marah/sering mengalami temper tantrum
Pada anak balita, gejala ADHD yang kerap terlihat, adalah:
• Sulit berkonsentrasi/memiliki rentang konsentrasi yang sangat pendek
• Sangat aktif dan selalu bergerak
• Impulsif
• Cenderung penakut
• Memiliki daya ingat yang pendek
• Terlihat tidak percaya diri
• Memiliki masalah tidur dan sulit makan
• Sangat cerdas, namun prestasi belajar tidak prima.
Tidak semua anak yang mengalami ADHD terlihat memiliki gejala ini, karena sangat tergantung pada tingkat ADHD yang diidap.

  1. C.      Ciri anak ADHD

1. Tidak bisa duduk diam lebih dari 2 menit
2. Sulit berkonsentrasi mengerjakan tugas.
3. Ceroboh dalam menaruh mainan atau berjalan
4. ada gejala alergi atau asma
5. selalu banyak energy sering lompat lompat
6. Kadang suka gelisah kalau bosan
7. Banyak berkeringat
8. suka lupa menaruh barang-barangnya
9. Suka marah marah atau impulsif
10. Tidak mendengarkan kalau di ajak bicara.
11. Bila diajak bicara matanya kearah yang berbeda.
12. Perhatiannya sering terganggu bila ada suara atau cahaya dari tempat lain
13. Bila Keinginannya tidak dituruti akan marah dan gelisah dan membantah suatu pembicaraan apa pun.

  1. D.      Gambaran Klinis tentang ADHD
  • Gambaran Klinis
    1. Gangguan pemusatan perhatian (inattention)

a. Jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas.
b. Mainan, dll sering tertinggal.
c. Sering membuat kesalahan.
d. Mudah beralih perhatian (terutama oleh rangsang suara).
e. Sulit menyelesaikan tugas atau pekerjaan sekolah.

2. Hiperaktivitas

a. Banyak bicara.
b. Tidak dapat tenang/diam, mempunyai kebutuhan untuk selalu bergerak.
c. Sering membuat gaduh suasana.
d. Selalu memegang apa yang dilihat.
e. Sulit untuk duduk diam.
f. Lebih gelisah dan impulsif dibandingkan dengan mereka yang seusia.

3. Impulsivity
a. Sering mengambil mainan teman dengan paksa.
b. Tidak sabaran.
c. Reaktif.
d. Sering bertindak tanpa dipikir dahulu.

4. Sikap menentang
a. Sering melanggar peraturan.
b. Bermasalah dengan orang-orang yang memiliki otoritas.
c. Lebih mudah merasa terganggu, mudah marah (dibandingkan dengan mereka yang seusia).

5. Cemas
a. Banyak mengalami rasa khawatir dan takut.
b. Cenderung emosional.
c. Sangat sensitif terhadap kritikan.
d. Mengalami kecemasan pada situasi yang baru atau yang tidak familiar.
e. Terlihat sangat pemalu dan menarik diri.

6. Problem sosial
a. Hanya memiliki sedikit teman.
b. Sering memiliki rasa rendah diri dan tidak percaya diri.

  1. E.       Cara melatih konsentrasi anak ADHD dengan bermain
    1. 1.      Berlari Dalam Ruangan
      4-5 anak berlari membentuk lingkaran dan guru kemudian memberi tanda akustik dengan memakai gendang, rebana atau tepuk tangan berirama untuk menghentikan gerakan anak secara tiba-tiba, kemudian anak secepat mungkin harus tengkurap.
      * Variasi Permainan:
      – Anak-anak kemudian dapat berlari mundur, lalu dihentikan tiba-tiba juga dengan alat musik atau bunyi-bunyian.
      – Anak-anak dapat berkeliling dengan melompat atau merayap diiringi musik kaset atau bunyi-bunyian lain,
      kemudian dihentikan tiba-tiba.
      * Materi permainan: Kaset, alat musik, gendang, rebana atau alat musik lain atau segitiga pengaman.
      * Keterangan Mengenai Metode Pengajaran:
      Pada awal permainan anak-anak masih akan mengalami kesulitan-kesulitan untuk menghentikan gerakan mereka secara mendadak waktu tanda akustik diperdengarkan dan sebagian anak masih tetap berlari terus, tetapi lama kelamaan mereka bisa mengontrol tubuh mereka dengan baik dan memusatkan perhatian mereka pada tanda/aba-aba akustik yang diberikan

 

  1. 2.      Pengenalan Berbagai Bunyi
    Macam-macam bunyi seperti anjing menggonggong, ayam berkokok, burung berkicau, suara klakson mobil dll direkam kedalam kaset dan kemudian diperdengarkan kepada sekelompok kecil anak dan setiap anak bergiliran harus menebak bunyi apakah itu.
    * Variasi Permainan:
    Suara dari guru-guru dan anak-anak dalam kelompok atau dari kelas lain direkam dan kemudian diperdengarkan, lalu anak-anak menebak suara siapakah itu?

    * Materi/Alat Permainan:Sebuah tape recorder , alat perekam dan kaset
    * Keterangan Mengenai Metode Pengajaran:
    Permainan ini menyenangkan, bila dimainkan tidak terlalu lama, karena bila kelamaan anak cepat menjadi bosan dan konsentrasinya bisa terganggu.

 

  1. 3.      Bermain dengan Menirukan Tingkah Laku dan Suara Binatang
    Sekitar 4-5 anak berkumpul membentuk lingkaran dan duduk diatas matras. Seorang guru berdiri di tengah dengan memakai topi penyihir dan memegang tongkat sihir yang dihias sebelumnya. Satu persatu anak ditutup dengan selimut dan sambil membentangkan tangannya dan tongkat menyentuh kepala anak tsb, sambil berkata „Bim salabim, jadilah gajah“, kemudian selimut diangkat, anak tsb menirukan tingkah laku gajah dan bersuara seperti gajah. Kemudian pindah ke anak lain, melakukan hal yang sama dan berkata:“Bim salabim, jadilah ayam“ dan anak tsb bertingkah laku seperti ayam, sambil memperdengarkan suara ayam berkokok dstnya.
    * Variasi Permainan:
    Anak-anak juga bisa mengusulkan untuk menjadi binatang kesayangannya seperti anjing, kuda ,burung, kucing dsbnya.
    * Materi/Alat Permainan:Matras. Sehelai selimut, topi penyihir dan tongkat sihir yang bisa dibuat sendiri
    dengan hiasan kertas crep warna-warni.
    * Keterangan Mengenai Metode Pengajaran:
    Anak-anak yang menjadi berbagai binatang harus bergerak dan mengeluarkan suara-suara sedemikian rupa menurut kemampuan masing-masing anak dalam menirukannya. Dorongan untuk satu variasi mengenai penampilan meniru tingkah laku dan suara satu jenis binatang bagi seorang anak bisa didapat dengan memperhatikan gerak dan gaya anak-anak sebelumnya ataupun gurunya, sebelum tiba gilirannya. Guru wajib menuntun konsentrasi anak agar memperhatikan kelakuan temannya itu, agar dia juga bisa menirukan dengan baik tingkah laku dan suara binatang yang jadi pilihannya.

 

  1. 4.      Memperdengarkan Suara Keras dan Suara Lembut
    Sekelompok kecil anak terdiri dari 5 atau 6 anak duduk di lantai sambil mengetuk-ngetuk kakinya ke lantai dengan keras, lebih keras dan lebih keras lagi, kemudian beralih ke suara yang lembut, lebih lembut dan lebih lembut lagi, sehingga hampir tidak kedengaran.
    * Variasi Permainan:
    – Lakukan seperti diatas , bertepuk tangan atau menepuk-nepuk lantai
    – Berteriak keras, kemudian lembut, lalu lebih keras dan lebih lembut
    – Memukul meja dengan keras dan lembut, lebih keras dan lebih lembut
    – Dengan memainkan alat musik, lebih keras dan lebih lembut dstnya
    * Materi/Alat Permainan: Meja, kursi, alat musik dan alat bunyi-bunyian lain
    * Keterangan Mengenai Metode Pengajaran:
    Anak-anak yang pemalu atau takut biasanya susah untuk berteriak atau membuat ribut. Latihan ini justru baik untuk mereka, dan guru tolong membujuk dan memotivasi mereka untuk mau ikut bermain. Permainan ini juga sangat baik dilakukan sebelum menjalankan program mewarnai, menggunting, menempel atau mengenal bentuk-bentuk dll yang memerlukan konsentrasi dan ketenangan. Juga baik dilakukan pada saat kebanyakan anak kelihatan kesal atau susah berkonsentrasi, terutama pada hari Senin setelah berakhir minggu, anak sering kelelahan dan tidak “mood” di Taman Bermain. Anak dapat berteriak keras dan lebih keras lagi untuk menyalurkan agresifitasnya dan kemudian akan terlihat lebih santai.

 
* Variasi Permainan Lain:
Guru membisikkan sesuatu ke telinga anak dan bertanya, apa anak itu mengerti dengan mengulang kalimat yang dibisikkan itu. Kemudian sebaliknya anak membisikkan satu kalimat kepada guru dan bertanya apa yang baru saja dia bisikkan.

 

  1. 5.      Permainan Akustik (Membuat Suara-Suara)
    Berbagai macam alat yang mengeluarkan bunyi-bunyian yang berbeda diberikan kepada sekelompok kecil anak yang terdiri dari 4-6 anak. Pastikan bahwa setiap anak mendapatkan instrument yang berbeda, misalnya gendang, rebana, bel, satu ikatan kunci-kunci, klakson mobil, satu ikatan kaleng-kaleng bekas, tutup panci dengan sendoknya dll. Kemudian masing-masing anak mencoba sendiri suara-suara apa saja yang bisa diperdengarkan dengan memainkan alat yang dipegangnya itu dan kemudian alat itu ditukar dengan alat yang dipegang temannya dan dicoba membuat nada-nada dengan alat musik yang dipegangnya tsb, demikian seterusnya sampai mereka mencoba semua alat yang ada dan bereksperimen membuat nada-nada.
    * Variasi Permainan:
    Dengan aba-aba yang diberikan guru semua anak bersama-sama mencoba memainkan alat yang dipegangnya dan mengusahakan untuk membuat bunyi-bunyian berirama membentuk satu konser. Pantun-pantun dan lagu-lagu pendek dapat pula diajarkan untuk dinyanyikan dengan iringan musik dan instrument mereka. Cobalah terus berulang-ulang dalam beberapa minggu sampai satu waktu bisa menjadi satu konser sungguhan.
    * Materi/Alat Permainan:
    Semua instrument yang mengeluarkan buny-bunyian seperti gendang, rebana, xylophon, segitiga pengaman, bel, satu bundel kunci-kunci, kincringan, klakson mobil, kaleng-kaleng kosong, tutup panci dll.
    * Keterangan Mengenai Metode Pengajaran:
    Untuk mencoba alat-alat yang ada sampai bisa membentuk irama tertentu, anak-anak memerlukan beberapa hari dan ini harus dijadwalkan dalam susunan pelajaran harian.Barulah sesudah anak-anak menguasai alat tsb dengan baik variasi permainan dengan membentuk konser dengan membawakan lagu tertentu dapat dilaksanakan. Dalam hal ini peran guru dalam membimbing anak sangat penting.

 

  1. 6.      Menebak Bunyi-Bunyian
    Bunyi-bunyian atau suara-suara yang sebelumnya telah diperkenalkan kepada anak-anak akan dimainkan oleh guru dibelakang punggungnya atau dibalik gorden. Anak-anak harus menebak nama alat yang dibunyikan tsb. Atau bisa juga mata anak ditutup dengan sehelai kain dan satu alat musik dimainkan, kemudian dia menebak alat apa itu.
    * Variasi Permainan:
    1. Satu anak bersembunyi dan memperdengarkan bunyi dari alat musik tertentu yang dipegangnya dan anak lain
    menebaknya.
    2. Jam weker disembunyikan di bawah bantal dan anak-anak mencari asal suaranya.

 

* Materi/Alat Permainan:
Semua alat yang bisa mengeluarkan bunyi-bunyian seperti pada permainan sebelumnya dan sapu tangan.

* Keterangan Mengenai Metode Pengajaran:
Instrument seperti misalnya gendang dapat dibunyikan untuk digunakan sebagai daya tarik anak, mengajak mereka bermain di ruang terbuka atau memotivasi mereka untuk melompati rintangan-rintangan yang dipasang misalnya.

 

  1. 7.      Bermain: Dimana Rumahku?
    Setiap anak berdiri di dalam rumahnya masing-masing, di tengah sebuah ban bekas, atau ditengah tali berwarna yang membentuk lingkaran atau di tengah hola-hop. Dengan mengikuti suara gendang atau rebana yang dimainkan guru atau suara kaset anak-anak mulai keluar dari rumahnya itu dan berlarian mengelilingi ruangan. Melalui aba-aba dari guru atau pada waktu musik distop, anak-anak mencari rumahnya dan duduk kembali di tengah-tengah rumahnya masing-masing. Anak-anak harus benar-benar mengenali rumahnya , apakah melalui warna atau bentuknya. Untuk memudahkan pengenalan rumahnya kembali, anak bisa meletakkan barang kesayangannya seperti boneka, dompet dll di rumahnya itu.
    * Variasi Permainan:
    – Berkunjung ke rumah teman: Bermain peran dengan mengetahui cara-cara berkunjung ke rumah teman.
    * Materi/Alat Permainan:Ban bekas, tali berwarna, hola hop.
    Permainan-permainan tsb diatas tidak hanya digunakan dalam menterapi anak-anak ADD/ADHD saja, tetapi juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan konsentrasi anak pada umumnya dan mengarahkan perhatian anak pada satu tugas tertentu melalui bermain dengan suara-suara atau bunyi-bunyian.

 

  1. F.       Nutrisi untuk anak ADHD

* Rendah karbohidrat dan tinggi protein
Untuk makan pagi 6o% – 70% protein dan 30% – 40% karbohidrat, makan siang dan makan malam 50% protein dan 50% karbohidrat. Karbohidrat yang dikonsumsi juga yang merupakan karbohidrat kompleks sehingga tidak mudah diubah menjadi gula, seperti whole wheat, kacang-kacangan, dll.

* Menghindari bahan-bahan yang membuat alergi pada anak ADHD karena anak ADHD sangat sensitif sehingga mudah terjadi alergi yang bermanifestasi dalam bentuk batuk, influenza karena alergi, dll. Bahan-bahan yang harus dihindari seperti MSG, pewarna, pengawet, juga susu, tepung, kedelai, jagung, telur, kacang, dll

* Rendah gula
Hindari makanan-makanan yang banyak mengandung gula seperti donat, permen, soft drinks, es krim, dan cokelat. Setiap sendok gula yang berkurang sangat berguna. Gula menyebabkan usus halus menjadi permeabel terhadap alergen. Tingginya kadar gula dalam tubuh juga akan mengakibatkan kadar insulin tinggi. Kadar insulin yang tinggi akan mengakibatkan emosi yang labil sehingga dapat memperparah keadaan anak ADHD.

* Makan banyak sayuran dan buah

* Minum banyak air
80% otak terdiri dari air sehingga dengan meningkatkan konsumsi air menjadi 7-8 gelas perhari akan baik untuk otak. Teh, susu, juice tidak termasuk air, jadi hanya air yang dianggap air.
* Menghindari makanan yang mengandung salisilat seperti : kacang almond, plum, prune, apel dan cuka apel, raspberrie, apricot, anggur dan cuka dari anggur, strawberry, blackberry, teh, ceri, nectarine, tomat, jeruk, timun dan acar, peach, wine dan cuka dari wine.
Salisilat dapat menghambat kerja enzim dalam otak yang berfungsi untuk mengurangi kesensitifan otak terhadap reaksi alergi.

* Mengkonsumsi suplemen seperti vitamin B, zinc, chromium, tembaga, besi, magnesium, kalsium, amino acid chelates dan flavenoids. Pada anak ADHD sering terdapat defisiensi zat-zat tersebut karena pengeluaran zat tersebut dari urine secara berlebihan.

* Menghindari paparan logam berat seperti tambalan gigi dari amalgam, kawat gigi dari nikel, dll.
* Kafein dapat digunakan sebagai stimulant susunan saraf pusat yang mempunyai efek vasodilator yang dibutuhkan oleh otak karena pada anak ADHD terjadi kekurangan aliran darah ke bagian-bagian otak.

Pengaturan nutrisi ini bermanfaat sebagai salah satu cara yang digunakan untuk mengendalikan gejala-gejala pada anak ADHD. Selain tidak berbahaya, pengaturan nutrisi ini aman digunakan dalam jangka panjang.

 

  1. G.      Tritmen bagi anak ADHD

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan ADHD, namun telah tersedia beberapa pilihan tritmen yang telah terbukti efektif untuk menangani anak-anak dengan gejala ADHD. Strategi penanganan tersebut melibatkan aspek farmasi, perilaku, dan metode multimodal.
Metode perubahan perilaku bertujuan untuk memodifikasi lingkungan fisik dan sosial anak untuk mendukung perubahan perilaku (AAP, 2001). Pihak yang dilibatkan biasanya adalah orang tua, guru, psikolog, terapis kesehatan mental, dan dokter. Tipe pendekatan perilakuan meliputi training perilaku untuk guru dan orang tua, program yang sistematik untuk anak (penguatan positif dan token economy), terapi perilaku klinis (training pemecahan masalah dan ketrampilan sosial), dan tritmen kognitif-perilakuan/CBT (monitoring diri, self-reinforcement, instruksi verbal untuk diri sendiri, dan lain-lain) (AAP,2001). Metode farmasi meliputi penggunaan psikostimulan, antidepresan, obat untuk cemas, antipsikotik, dan stabilisator suasana hati (NIMH, 2000). Harus diperhatikan bahwa penggunaan obat-obatan ini harus dibawah pengawasan ketat dokter dan ahli farmasi yang terus-menerus melakukan evaluasi terhadap efektivitas penggunaan dan dampaknya terhadap subjek tertentu.
Beberapa penelitian terakhir membuktikan bahwa cara terbaik untuk menangani anak ADHD adalah dengan mengkombinasikan beberapa pendekatan dan metode penanganan. Penelitian yang dilakukan NIMH terhadap 579 anak ADHD menunjukkan bahwa kombinasi terapi obat dan perilaku lebih efektif dibandingkan jika digunakan sendiri-sendiri. Tritmen multimodal khususnya efektif untuk meningkatkan ketrampilan sosial pada anak-anak ADHD yang diikuti gejala kecemasan atau depresi. Ternyata dosis obat yang digunakan lebih rendah jika diikuti dengan terapi perilaku daripada jika diberikan tanpa terapi perilaku.

 

TERAPI “BACK IN CONTROL (BIC)”

Program terapi “Back in Control” dikembangkan oleh Gregory Bodenhamer. Program terapi ini unik karena dikatakan lebih baik daripada intervensi reward/punishment bagi anak-anak dengan ADHD. Program ini berbasis kepada sistem yang berdasar pada aturan, jadi tidak tergantung pada keinginan anak untuk patuh. Jadi, program ini lebih kepada sistem training bagi orang tua yang kemudian diharapkan dapat menciptakan sistem tata aturan yang berlaku dirumah sehingga dapat merubah perilaku anak. Demi efektivitas program, maka nantinya orang tua akan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk melakukan proses yang sama bagi anaknya, ketika dia di sekolah. Orang tua harus selalu melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan dan konsisten atas program yang dijalankan. Begitu juga ketika program ini dilaksanakan bersama-sama dengan pihak sekolah maka orang tua sangat memerlukan keterlibatan guru dan petugas di sekolah untuk melakukan proses monitoring dan evaluasi.
Dalam program ini, tugas orang tua adalah:

  1. Orang tua mendefinisikan aturan secara jelas dan tepat (kita perjelas apa yang kita mau, tidak kurang tidak lebih). Kita buat aturan sejelas mungkin sehingga pengasuh pun dapat mendukung pelaksanaannya tanpa banyak penyimpangan.
  2. Jalankan aturan tersebut dengan ketat.
  3. Jangan memberi imbalan atau hukuman pada sebuah aturan. Jalankan saja.
  4. Jangan pernah berdebat dengan anak tentang sebuah aturan. Gunakan kata-kata kunci yang tidak akan diperdebatkan, misalnya “kamu harus….meskipun…..”

 

Beberapa masalah yang muncul dalam pelaksanaan program ini antara lain :

1. Kebanyakan orang tua kurang bersedia memberikan reward, sedikit yang benar-    benar tidak memberikan hukuman.

2. Kebanyakan orang tua kesulitan menahan untuk berteriak ketika marah kepada anak mereka. Sebenarnya, hal ini justru membuat anak merasa menang dan mengalihkan anak dari aturan yang sebenarnya.

 

  1. H.      Hal – Hal yang perlu diperhatikan dalam terapi ADHD
    1. Tujuan dan target setiap sesi terapi bermain harus spesifik berdasarkan kondisi dan ketrampilan anak, dilakukan dengan bertahap, terstruktu,r dan konsistensi. Salah satu yang perlu diperhatikan pada anak ADHD adalah sensitivitas mereka terhadap perubahan sehingga kita harus membantu menciptakan sesuatu yang rutin untuk mereka. Dalam hal ini konsistensi yang dapat diciptakan terapis misalnya dalam hal waktu, aturan bermain, tempat, dan jumlah alat permainan. Pemilihan ini harus didasarkan pada kondisi anak dan target perilaku yang dituju.
    2. Permainan yang digunakan harus dipecah-pecah menjadi komponen-komponen kecil yang diajarkan satu persatu dengan tahap dan cara yang sama. Mereka selalu sulit mengorganisasikan waktu sehingga kita harus membantu untuk memecah-mecah tugas menjadi komponen-komponen kecil yang sederhana. Misalnya: acara menggambar di bagi dalam kegiatan mengambil kertas, mengambil pensil, mengambil crayon, dst.
    3. Terapi diberikan dalam beberapa tahap, pertama dengan satu anak satu terapis dalam tempat terapi khusus, kemudian perlahan-lahan anak akan dilibatkan dalam permainan bersama anak lain (sebaiknya yang tidak ADHD), dan jika sudah memungkinkan maka anak dilibatkan dalam kelompok yang lebih besar. Permainan sosial ini harus dirancang terapis dan orang tua untuk membantu anak mengembangkan ketrampilan bersosialisasi.
    4. Terapi bagi anak penyandang ADHD tidak dapat dilakukan hanya dengan terapi tunggal. Mengingat bahwa gangguannya berkaitan dengan sirkuit di dalam otak, maka terapi bermain sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan terapi yang lain, yaitu terapi farmakologi. Rencana program terapi yang dijalankan pun harus disusun dengan terpadu dan terstruktur dengan baik, begitu juga proses evaluasinya.
    5. Terapi bermain ini harus dilakukan oleh tenaga terapis yang sudah terlatih dan betul-betul mencintai dunia anak dan pekerjaannya. Hal ini terlebih pada penyandang ADHD karena menangani anak ADHD memerlukan kesabaran dan keteguhan hati yang tinggi. Jika pada anak non ADHD target perubahan perilaku yang dibuat mungkin dapat dicapai dengan cepat dan lebih mudah, maka bagi penyandang ADHD untuk mengendalikan perilaku mereka saja mungkin sulit.
    6. Keberhasilan program terapi bermain sangat ditentukan oleh bagus tidaknya kerja sama terapis dengan orang tua dan orang-orang lain yang terlibat dalam pengasuhan anak sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan proses transfer ketrampilan yang sudah diperoleh selama terapi yang harus terus dipelihara dan ditingkatkan dalam kehidupan di luar program terapi.
    7.  Jika secara umum terapi bermain memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan eksplorasi, maka pada anak ADHD hal ini justru akan digunakan untuk memperkenalkan aturan-aturan dan mengendalikan perilaku
    8. Terapi bermain bagi penyandang ADHD dapat ditujukan untuk meminimalkan/menghilangkan perilaku agresif, perilaku menyakiti diri sendiri, dan menghilangkan perilaku berlebihan yang tidak bermanfaat. Hal ini dapat dilakukan dengan melatihkan gerakan-gerakan tertentu kepada anak, misalnya tepuk tangan, merentangkan tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, dan alat bermain yang lain. Dengan mengenalkan gerakan yang lain dan berbagai alat bermain yang dapat digunakan maka diharapkan dapat digunakan untuk mengalihkan agresivitas yang muncul, juga jika anak sering berlarian tak bertujuan. Mengenalkan anak pada permainan konstruktif seperti menyusun balok juga akan membantu anak mengenal urutan dan membantu mengembangkan ketrampilan motorik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ANAK KESULITAN BELAJAR

 

Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan Clement tersebut maka pengertian kesulitan belajar adalah kondisi yang merupakan sindrom multidimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan belajar spesifik (spesific learning disabilities), hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dan masalah emosional. Kelompok anak dengan Learning Dissability (LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, body image, dan konsep diri.

Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan jelas dan sering disebut ”hidden handicap”. Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh orangtua dan guru, akibatnya anak yang mengalami kesulitan belajar sering diidentifikasi sebagai anak yang underachiever, pemalas, atau aneh. Anak-anak ini mungkin mengalami perasaan frustrasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan (Harwell, 2001).

  1. A.      Faktor penyebab Kesulitan Belajar

Ada beberapa penyebab kesulitan belajar yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001), yaitu :

1. Faktor keturunan/bawaan

2. Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau prematur

3. Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol selama masa kehamilan.

4. Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam.

5. infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.

6. Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.

 

Riset menunjukkan bahwa apa yang terjadi selama tahun-tahun awal kelahiran sampai umur 4 tahun adalah masa-masa kritis yang penting terhadap pembelajaran ke depannya. Stimulasi pada masa bayi dan kondisi budaya juga mempengaruhi belajar anak.  Pada masa awal kelahiran samapi usia 3 tahun misalnya, anak mempelajari bahasa dengan cara mendengar lagu, berbicara kepadanya, atau membacakannya cerita. Pada beberpa kondisi, interaksi ini kurang dilakuan, yang bisa saja berkontribusi terhadap kurangnya kemampuan fonologi anak yang dapat membuat anak sulit membaca (Harwell, 2001)

Sementara Kirk & Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:

1. Faktor Disfungsi Otak

Penelitian mengenai disfungsi otak dimulai oleh Alfred Strauss di Amerika Serikat pada akhir tahun 1930-an, yang menjelaskan hubungan kerusakan otak dengan bahasa, hiperaktivitas dan kerusakan perceptual. Penelitian berlanjut ke area neuropsychology yang menekankan adanya perbedaan pada hemisfer otak. Menurut Wittrock dan Gordon, hemisfer kiri otak berhubungan dengan kemampuan sequential linguistic atau kemampuan verbal; hemisfer kanan otak berhubungan dengan tugas-tugas yang berhubungan dengan auditori termasuk melodi, suara yang tidak berarti, tugas visual-spasial dan aktivitas non verbal. Temuan Harness, Epstein, dan Gordon mendukung penemuan sebelumnya bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar (learning difficulty) menampilkan kinerja yang lebih baik daripada kelompoknya ketika kegiatan yang mereka lakukan berhubungan dengan otak kanan, dan buruk ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan otak kiri. Gaddes mengatakan bahwa 15% dari anak yang termasuk underachiever, memiliki disfungsi system syaraf pusat (dalam Kirk & Ghallager, 1986).

2. Faktor Genetik

Hallgren melakukan penelitian di Swedia dan menemukan bahwa, yang faktor herediter menentukan ketidakmampuan dalam membaca, menulis dan mengeja diantara orang-orang yang didiagnosa disleksia. Penelitian lain dilakukan oleh Hermann (dalam Kirk & Ghallager, 1986) yang meneliti disleksia pada kembar identik dan kembar tidak identik  yang menemukan bahwa frekwensi disleksia pada kembar identik lebih banyak daripada kembar tidak identik sehingga ia menyimpulkan bahwa ketidakmampuan membaca, mengeja dan menulis adalah sesuatu yang diturunkan.

3. Faktor Lingkungan dan Malnutrisi

Kurangnya stimulasi dari lingkungan dan malnutrisi yang terjadi di usia awal kehidupan merupakan dua hal yang saling berkaitan yang dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada anak. Cruickshank dan Hallahan (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa meskipun tidak ada hubungan yang jelas antara malnutrisi dan kesulitan belajar, malnutrisi berat pada usia awal akan mempengaruhi sistem syaraf pusat dan kemampuan belajar serta berkembang anak.

4. Faktor Biokimia

Pengaruh penggunaan obat atau bahan kimia lain terhadap kesulitan belajar masih menjadi kontroversi. Penelitian yang dilakukan oleh Adelman dan Comfers (dalam Kirk & Ghallager, 1986) menemukan bahwa obat stimulan dalam jangka pendek dapat mengurangi hiperaktivitas. Namun beberapa tahun kemudian penelitian Levy (dalam Kirk & Ghallager, 1986) membuktikan hal yang sebaliknya. Penemuan kontroversial oleh Feingold menyebutkan bahwa alergi, perasa dan pewarna buatan hiperkinesis pada anak yang kemudian akan menyebabkan kesulitan belajar. Ia lalu merekomendasikan diet salisilat dan bahan makanan buatan kepada anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Pada sebagian anak, diet ini berhasil namun ada juga yang tidak cukup berhasil. Beberapa ahli kemudian menyebutkan bahwa memang ada beberapa anak yang tidak cocok dengan bahan makanan.

 

  1. B.       Karakteristik Kesulitan Belajar

Menurut Valett (dalam Sukadji, 2000) terdapat tujuh karakteristik yang ditemui pada anak dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar disini diartikan sebagai hambatan dalam belajar, bukan kesulitan belajar khusus.

  1. Sejarah kegagalan akademik berulang kali

Pola kegagalan dalam mencapai prestasi belajar ini terjadi berulang-ulang. Tampaknya memantapkan harapan untuk gagal sehingga melemahkan usaha.

 

  1. 2.      Hambatan fisik/tubuh atau lingkungan berinteraksi dengan kesulitan belajar

Adanya kelainan fisik, misalnya penglihatan yang kurang jelas atau pendengaran yang terganggu berkembang menjadi kesulitan belajar yang jauh di luar jangkauan kesulitan fisik awal.

 

  1. Kelainan motivasional

Kegagalan berulang, penolakan guru dan teman-teman sebaya, tidak adanya reinforcement. Semua ini ataupun sendiri-sendiri cenderung merendahkan mutu tindakan, mengurangi minat untuk belajar, dan umumnya merendahkan motivasi atau memindahkan motivasi ke kegiatan lain.

 

  1. 4.      Kecemasan yang samar-samar, mirip kecemasan yang mengambang

Kegagalan yang berulang kali, yang mengembangkan harapan akan gagal dalam bidang akademik dapat menular ke bidang-bidang pengalaman lain. Adanya antisipasi terhadap kegagalan yang segera datang, yang tidak pasti dalam hal apa, menimbulkan kegelisahan, ketidaknyamanan, dan semacam keinginan untuk mengundurkan diri. Misalnya dalam bentuk melamun atau tidak memperhatikan.

 

  1. 5.      Perilaku berubah-ubah, dalam arti tidak konsisten dan tidak terduga

Rapor hasil belajar anak dengan kesulitan belajar cenderung tidak konstan. Tidak jarang perbedaan angkanya menyolok dibandingkan dengan anak lain. Ini disebabkan karena naik turunnya minat dan perhatian mereka terhadap pelajaran. Ketidakstabilan dan perubahan yang tidak dapat diduga ini lebih merupakan isyarat penting dari rendahnya prestasi itu sendiri.

 

  1. Penilaian yang keliru karena data tidak lengkap

Kesulitan belajar dapat timbul karena pemberian label kepada seorang anak berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Misalnya tanpa data yang lengkap seorang anak digolongkan keterbelakangan mental tetapi terlihat perilaku akademiknya tinggi, yang tidak sesuai dengan anak yang keterbelakangan mental.

  1. Pendidikan dan pola asuh yang didapat tidak memadai

Terdapat anak-anak yang tipe, mutu, penguasaan, dan urutan pengalaman belajarnya tidak mendukung proses belajar. Kadang-kadang kesalahan tidak terdapat pada sistem pendidikan itu sendiri, tetapi pada ketidakcocokan antara kegiatan kelas dengan kebutuhan anak. Kadang-kadang pengalaman yang didapat dalam keluarga juga tidak mendukung kegiatan belajar.

  1. C.      Klasifikasi Kesulitan Belajar

Menurut Kirk & Gallagher (1986), kesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu developmental learning disabilities dan kesulitan belajar akademis. Komponen utama pada developmental learning disabilities antara lain perhatian, memori, gangguan persepsi visual dan motorik, berpikir dan gangguan bahasa. Sedangkan kesulitan belajar akademis termasuk ketidakmampuan pada membaca, mengeja, menulis, dan aritmatik. Pembagian tersebut dapat dilihat pada bagan berikut :

 

1. Developmental Learning Disabilities

a. Perhatian (attention disorder)

Anak dengan attention disorder akan berespon pada berbagai stimulus yang banyak. Anak ini selalu bergerak, sering teralih perhatiannya, tidak dapat mempertahankan perhatian yang cukup lama untuk belajar dan tidak dapat mengarahkan perhatian secara utuh pada sesuatu hal.

b. Memory Disorder

Memory disorder adalah ketidakmampuan untuk mengingat apa yang telah dilihat atau didengar ataupun dialami. Anak dengan masalah memori visual dapat memiliki kesulitan dalam me-recall kata-kata yang ditampilkan secara visual. Hal serupa juga dialami oleh anak dengan masalah pada ingatan auditorinya yang mempengaruhi perkembangan bahasa lisannya.

c. Gangguan persepsi visual dan motorik

Anak-anak dengan gangguan persepsi visual tidak dapat memahami rambu-rambu lalu lintas, tanda panah, kata-kata yang tertulis, dan symbol visual yang lain. mereka tidak dapat menangkap arti dari sebuah gambar atau angka atau memiliki pemahaman akan dirinya. Contohnya seorang anak yang memiliki penglihatan normal namun tidak dapat mengenali teman sekelasnya. Dia hanya mampu mengenal saat orang ybs berbicara atau menyebutkan namanya. Pada anak dengan gangguan persepsi motorik, mereka tidak dapat memahami orientasi kanan-kiri, bahasa tubuh, visual closure dan orientasi spasial serta pembelajaran secara motorik.

d. Thinking disorder

Thinking disorder adalah kesulitan dalam operasi kognitif pada pemecahan masalah pembentukan konsep dan asosiasi. Thinking disorder berhubungan dekat dengan gangguan dalam berbahasa verbal. Dalam penelitian oleh Luick terhadap 237 siswa dengan gangguan dalam berbahasa verbal yang parah, menemukan bahwa mereka memperlihatkan kemampuan yang normal dalam tes visual dan motorik namun berada di bawah rata-rata pada tes persepsi auditori, ekspresi verbal, memori auditori sekuensial dan grammatic closure.

e. Language Disorder

Merupakan kesulitan belajar yang paling umum dialami pada anak pra-sekolah. Biasanya anak-anak ini tidak berbicara atau berespon dengan benar terhadap instruksi atau pernyataan verbal.

 

2. Academic Learning Disabilities

Academic learning disabilities adalah kondisi yang menghambat proses belajar yaitu dalam membaca, mengeja, menulis, atau menghitung. Ketidakmampuan ini muncul pada saat anak menampilkan kinerja di bawah potensi akademik mereka.

  1. a.      Anak Bekesulitan Belajar Membaca (Diseleksia)

Disleksia menunjuk kepada anak yang tidak dapat membaca sekalipun penglihatan, pendengaran, dan intelegensinya normal (bahkan ada yang intelegensinya di atas rata-rata) serta keterampilan bahasanya sesuai. Disleksia ini akibat faktor neurologist dan tidak dapat diatributkan pada faktor kedua misalnya lingkungan atau sebab-sebab sosial.

Karakteristik

  • Membaca lamban, turun naik intonasinya, dan membaca kata demi kata,
  • Sering membalik huruf dan kata-kata,
  • Pengubahan huruf pada kata,
  • Kacau terhadap kata-kata yang hanya sedikit berbeda susunannya misalnya: bau, buah, batu, buta,
  • Sering menebak dan mengulang kata-kata dan frase.
  1. b.      Anak Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)

Disgrafia mengacu kepada anak yang mengalami hambatan dalam menulis meskipun ia tidak mengalami gangguan dalam motoriknya, visualnya, dan intelegensinya normal, bahkan ada yang di atas rata-rata. Hambatan ini juga bukan diakibatkan oleh masalah-masalah ekonomi dan sosial.

Karakteristik

  • Lambat ketika menulis
  • Kesulitan menggunakan spasi antar huruf atau antar kata
  • Tulisan tidak terbaca oleh orang lain dan dirinya sendiri
  • Tulisan terlalu tipis atau terlalu menekan
  • Sering menulis suatu angka atau huruf mirip dengan yang lain. Misalnya, 3 dengan 5, k dengan h, t dengan r.

 

  1. c.       Anak Kesulitan Berhitung (Diskalkulia)

Diskalkulia adalah kesulitan belajar yang menyebabkan anak menjadi tidak bisa berhitung. Mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika. Diskalkulia terjadi ketika anak tidak mampu memahami konsep-konsep hitung aau mengenali symbol-simbol aritmatika (tambah, kurang, bagi, kali, akar). Anak juga bisa mengalami gangguan dan kemampuan persepsi visual dan motorik. Misalnya anak hanya dapat apabila ia memegangnya secara berurutan. Selain itu masih ada sejumlah gangguan lain seperti gangguan orientasi ruang, ketika anak sulit mengenali konsep atas bawah, tinggi rendah.

Karakteristik

  • kesulitan mengenal konsep nilai, jumlah, urutan angka, pembagian, perkalian, dll
  • Tidak bisa memperkirakan ukuran atau jarak
  • Tidak bisa membedakan tanda atau simbol kurang, kali, bagi, tambah, akar, dan tanda aritmatika lainnya
  • Ketidamampuan membedakan kanan, kiri, dan arah mata angina
  • Kesulitan dalam pengertian bagian ( ½, 1/8, 1/16)
  • Tak mampu mengurutkan informasi yang ada
  • Tidak bisa membaca urutan angka, dan membalik kata ketika diulang
  • Tidak bisa menghitung uang kembalian dan matematika sedrhana dalam kehidupan sehari-hari
  • Kesulitan membaca jam, waktu dan tidak mengerti perhitungan hari, minggu, bulan, dan tahun

 

 

 

KEBUTUHAN-KEBUTUHAN PENYANDANG TUNANETRA


  1. A.     Kebutuhan akan Pengalaman Konkrit

Untuk menanamkan pengetahuan kepada anak buta tentang kenyataan disekelilingnya guru wajib berusaha untuk memberikan pengalaman konkrit yang beranekaragam seluas-luasnya, jadi sedikit banyak mengompensasikan keterbatasan lingkup dan corak pengalaman anak-anakbuta itu. Bagi anak buta tidaklah penting untuk belajar secara konkrit tentang hal-hal yang istimewa , yang menjadi kebutuhan utama ialah belajar tentang lingkungannya.

 

Kekonkritan di dalam mengajar pada dasarnya dapat dicapai dengan dua jalan :

  • Dengan memberi kesempatan kepada anak-anak mengamati obyek atau situasi secara langsung, atau dengan menyajikan model dari obyek bersangkutan . Realitas, yaitu obyek atau situasi yang sesungguhnya, harus dipilih dalam segala hal, selama dimungkinkan. Anak-anak tentu harus mendapatkan waktuyang cukup untuk mengadakan observasi . Mengatur agar obyek dapat diamati anak-anak sesudah jam pelajaran, sering merupakan sesuatu yang sangat baik. Pada kesempatan mengadakan pengamatan informal serupa itu anak-anak tunanetra  akan saling belajar dari temannya, baik yang awas maupun yang tunanetra . Widyawisata dan Darmawisata akan dapat mengenalkan anak-anak pada berbagai situasi. Situasi-situasi itu akan tetap abstrak bagi anak-anak, tanpa adanya kegiatan-kegiatan wisata itu. Nilai dari wisata- wisata serupa itu tergantuang dari persiapan dan tindak lanjutnya.
  • Memberikan sesuatu yang setaraf dengan ilustrasi visual kepada anak buta, sering dipergunakan gambar timbul, tetapi hasilnya tidak pernah lestari. Garis besar atau kerangka timbul untuk menyajikan benda-benda yang pada dasarnya adalah dua dimensi, seperti daun, garpu, atau seekor kupu-kupu, mungkin dikenal oleh anak-anak buta, dan bahkan gambaran orang akan dimengerti, karena mereka akan menghubungkannya dengan badan sendiri . Jika yang digunakannya adalah hewan tiruan sebagai obyek maka tinggal bentuknya saja yang dapat dipertahankan, sedangkan ukuran dan tekstur telah lenyap. Seringkali ukurannya meleset jauh dari hewan sebenarnya, sehingga anak-anak mendapatkan gambaranyang keliru tentang perbandingan besar  kecilnya berbagai hewan, terkecuali apabila guru senantiasa berhati-hati dan tekun menyadarkan mereka akan kekeliruan-kekeliruan lain. Kadang-kadang sebagai pengganti hewan yang sebenarnya, dipergunakan hewan yang telah diawetkan, oleh karena yang masih hidupitu tidak dapat tenang untuk jangka waktu yang cukup lama, sehingga bagian-bagiannya sukar diamati secara terperinci .

Menanamkan pengertian tentang realitas yang ada disekeliling mereka, bukanlah masalah memperkaya perbendaharaan kata anak, tetapi adalah masalah memberikan rasa relistis tentang lingkungan mereka .

 

  1. B.      KEBUTUHAN AKAN PENGALAMAN MEMADUKAN

Benda –benda yang lebih besar harus diamati dengan gerak raba yang teratur dan didalam banyak hal, hanya bagian-bagian saja diamati  sedemikian itu. Penglihatan memungkinkan penyatuan observasi beserta struktur-strukturnya, dan menyusun kesan-kesan yang secara terpisah diterima oleh indra-indra yang lain. Tiadanya pengalaman menyatu-padukan dalam rangka pembentukan keutuhan harus diimbangi oleh guru-guru, dengan cara memberi kesempatan kepada anak-anak buta mengalami situasi secara menyeluruh, dan menyatukan pengalaman –pengalaman yang sebagian ke dalam keutuhan yang berarti.

Mengajar dengan satuan pelajaran merupakan sarana penting untuk mencapai tujuan ini. Dengan metode ini, anak-anak tunanetra tidak hanya belajar tentang fakta-fakta dari sebuah topik tertentu seperti anak-anak normal, akan tetapi juga akan mengerti bagaimana bagian-bagian terhimpun menjadi obyek, situasi atau topik yang utuh. Kesatuan pelajaran yang dipergunakan anak-anak tunanetra hendaknya tidak mengetengahkan topik yang istimewa melainkan topik yang mempunyai arti sehari-hari, seperti sarana angkutan, kantor pos, bengkel dan pabrik, sawah dan pedesaan, hutan dan apa yang kita makan dan minum .

C . KEBUTUHAN AKAN CARA BELAJAR DAN BERBUAT

                 Sebagi akibat dari kebutaan serta tanggapan lingkungan terhadap cacat itu, maka anak-anak buta umumnya kurang sekali mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan sendiri. Oleh karena itu baim dirumah maupun disekolah, perhatian khusus harus diberikan untuk mendorong anak-anak buta sewajar mungkin  melakukan hal-hal sendiri sesuai dengan waktu yg ada. Keadaan anak buta yang sejak kecil tidak menerima rangsangan visual dari sekelilingnya .

Mereka perlu mempelajari kegiatan rutin sehari-hari dengan cara ditunjukan selama perkembangan mereka , hal ini menuntut usaha, waktu dan kesabaran . Hal ini harus dimulai pada waktu anak berusaha untuk mengerti sesuatu, didalam usaha untuk berpindah-pindah tempat dan dalam bidang umum , seperti : makan, minum, mandi , berpakaian , bermain dan bergaul. Anak buta itu harus didorong untuk mandiri dan mencapai sukses di dalam bidang-bidang tersebut. Semakin banyak situasi yang dikuasainya semakin kuat rasa mandirinya, dengan demikian semakin positif pula citra dirinya. Ini tidaklah berarti bahwa anak buta harus dilindungi terhadap pengalaman-pengalaman negatif dan kekecewaan , ia pun harus belajar tentang kekurangannya. Tetapi pengalaman negatif itu timbul didalam keadaan yang terpaksa selama kehidupan anak-anak buta, sedangkan pengalaman positif perlu diingatkan dan diperkuat.

Telah diakui bahwa rasa aman adalah hasil dari diterima atau tidaknya anak  ditengah keluarga, pada waktu kecil sewaktu ia sedang membentuk diri dan dunianya (formative years). Untuk sebagian besar, ditingkat penerimaan lingkungan terhadap dirinya, menentukan pemberian kesempatan untuk melekukan kegiatan-kegiatan sendiri setidaknya selagi ia masih tinggal dirumah. Didalam menanggapi kegiatan-kegiatan kreatif dari anak-anak buta, para pendidik perlu membiarkan mereka membuat sesuatu berdasarkan konsep dan perasaan mereka sendiri, dan hendaknya jangan memaksakan selera orang normal kepada mereka. Aspek-aspek visual didalam pekerjaan tanah liat tidak relevan bagi anak-anak buta yang berkarya berdasarkan perabaannya dan mewujudkan konsep rabaannya mengenai benda dan peristiwa. Yang penting adalah prosesnya bukan hasilnya .

STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. PENDAHULUAN

  1. 1. Latar Belakang

Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar, hanya saja problema tersebut ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh anak yang bersangkutan dan ada juga yang problem belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatka perhatian dan bantuan dari orang lain. Anak luar biasa atau disebut sebagai anak berkebutuhan khusus (children with special needs), memang tidak selalu mengalami problem dalam belajar. Namun, ketika mereka diinteraksikan bersama-sama dengan anak- anak sebaya lainnya dalam system pendidikan regular, ada hal-hal tertentu yang harus mendapatkan perhatian khusus dari guru dan sekolah untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal.

Pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus (student with special needs) membutuhkan suatu strategi tersendiri sesuai dengan kebutuhan masing – masing . Dalam penyusunan progam pembelajaran untuk setiap bidang studi hendaknya guru kelas sudah memiliki data pribadi setiap peserta didiknya. Data pribadi yakni berkaitan dengan karateristik spesifik, kemampuan dan kelemahanya, kompetensi yang dimiliki, dan tingkat perkembanganya. Karakteristik spesifik student with special needs pada umumnya berkaitan dengan tingkat perkembangan fungsional . Karaktristik spesifik tersebut meliputi tingkat perkembangan sensori motor, kognitif, kemampuan berbahasa, ketrampilan diri, konsep diri, kemampuan berinteraksi social serta kreativitasnya.

Untuk mengetahui secara jelas tentang karakteristik dari setiap siswa seorang guru terlebih dahulu melakukan skrining atau asesmen agar mengetahui secara jelas mengenai kompetensi diri peserta didik bersangkutan. Tujuannya agar saat memprogamkan pembelajaran sudah dipikirkan mengenbai bentuk strategi  pembelajaran yanag di anggap cocok. Asesmen di sini adalah proses kegiatan untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan setiap peserta didik dalam segi perkembangan kognitif dan perkembangan social, melalui pengamatan yang sensitive. Kegiatan ini biasanya memerlukan penggunaan instrument khusus secara baku atau di buat sendiri oleh guru kelas.

Model pembelajaran terhadap peserta didik berkebutuhan khusus yang di persiapkan oleh guru di sekolah, di tujukan agar peserta didik mampu berinteraksi terhadap lingkungan social. Pembelajaran tersebut disusun secara khusus melalui penggalian kemampuan diri peserta didik yang didasarkan pada kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi ini terdiri atas empat ranah yang perlu diukur meliputi kompetensi fisik, kompetensi afektif, kompetensi sehari- hari dan kompetensi akademik. [1]Dalam makalah ini akan dibahas mengenai ”Strategi Pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus”

 

  1. 2. Rumusan Masalah
    1. Apakah definisi dari anak berkebutuhan khusus?
    2. Bagaimana jenis dan karakteristik anak berkebutuhan khusus?
    3. Bagaimana strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus?
  1. 3. Tujuan
    1. Menjelaskan definisi dari anak berkebutuhan khusus.
    2. Mengidentifikasi jenis dan karakteristik anak berkebutuhan khusus.
    3. Menjelaskan strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.
  1. B. PEMBAHASAN
  2. 1. Definisi Anak  Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.[2] Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/ penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.[3]

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.

  1. 2. Jenis Dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru antara lain[4] :

a.Tunagrahita (Mental retardation)

Ada beberapa definisi dari tunagrahita, antara lain:

  1. American Association on Mental Deficiency (AAMD) dalam B3PTKSM, (p. 20) mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes individual; yang muncul sebelum usia 16 tahun; dan menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
  2. Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22), mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita ialah fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes intelegensi baku; kekurangan dalam perilaku adaptif; dan terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
  3. The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped menyatakan tentang tunagrahita adalah bahwa seseorang dikatakan tunagrahita apabila kecerdasannya jelas-jelas di bawah rata-rata dan berlangsung pada masa perkembangan serta terhambat dalam adaptasi tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya.
  4. Definisi tunagrahita yang dipublikasikan oleh American Association on Mental Retardation (AAMR). Di awal tahun 60-an, tunagrahita merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum dan keterbatasan pada keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif mencakup area : komunikasi, merawat diri, home living, keterampilan sosial, bermasyarakat, mengontrol diri, functional academics, waktu luang, dan kerja. Menurut definisi ini, ketunagrahitaan muncul sebelum usia 18 tahun.
  5. Menurut WHO seorang tunagrahita memiliki dua hal yang esensial yaitu fungsi intelektual secara nyata di bawah rata-rata dan adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tututan yang berlaku dalam masyarakat.[5]

Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa indikasi sebagai berikut:

  1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,
  2. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
  3. Perkembangan bicara/bahasa terlambat
  4. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong),
  5. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
  6. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).
    1. b. Tunalaras (Emotional or behavioral disorder)
  • Nilai standarnya 4

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.

Menurut Eli M. Bower (1981), anak dengan hambatan emosional atau kaelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut:

  1. Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena factor intelektual, sensori atau kesehatan.
  2. Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.
  3. Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
  4. Secara umum mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi.
  5. Bertendensi kea rah symptoms fisik: merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.

Anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku juga bisa diidentifikasi melalui indikasi berikut:[6]

  1. Bersikap membangkang,
  2. Mudah terangsang emosinya,
  3. Sering melakukan tindakan aggresif,
  4. Sering bertindak melanggar norma social/norma susila/hukum.
    1. c. Tunarungu Wicara (Communication disorder and deafness)

Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:[7]

  1. Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
  2. Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
  3. Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
  4. Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
  5. Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB).

Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.

Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan pendengaran[8]:

  1. Tidak mampu mendengar,
  2. Terlambat perkembangan bahasa,
  3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
  4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara,
  5. Ucapan kata tidak jelas,
  6. Kualitas suara aneh/monoton,
  7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,
  8. Banyak perhatian terhadap getaran,
  9. Keluar nanah dari kedua telinga,
  10. Terdapat kelainan organis telinga.
  • Nilai standarnya 7.
  1. d. Tunanetra (Partially seing and legally blind)

Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).

Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan penglihatan:[9]

  1. Tidak mampu melihat,
  2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,
  3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
  4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
  5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
  6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
  7. Mata bergoyang terus.
  • Nilai standarnya adalah 6, artinya bila anak mengalami minimal 6 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.
  1. e. Tunadaksa (physical disability)

Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.

Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh tubuh/gerak tubuh:[10]

  1. Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
  2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
  3. Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
  4. Terdapat cacat pada alat gerak,
  5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
  6. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal,
  7. Hiperaktif/tidak dapat tenang.
  • Nilai standarnya 5.
  1. f. Tunaganda (Multiple handicapped)

Menurut Johnston & Magrab, tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neurologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat.

Walker (1975) berpendapat mengenai tunaganda sebagai berikut:

  1. Seseorang dengan dua hambatan yang masing-masing memerlukan layanan-layanan pendidikan khusus.
  2. Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda yang memerlukan layanan teknologi.
  3. Seseorang dengan hambatan-hambatan yang memerlukan modifikasi khusus.
    1. g. Kesulitan Belajar (Learning disabilities)

Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.

Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, menulis dan berhitung[11]:

  1. Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
  2. Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
  3. Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
  4. Kalau membaca sering banyak kesalahan
  • Nilai standarnya 3.
  1. Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)
  2. Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
  3. Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,
  4. Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
  5. Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
  6. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
  • Nilai standarnya 4.
  1. Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkula)
  2. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
  3. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
  4. Sering salah membilang dengan urut,
  5. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
  6. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
  • Nilai standarnya 4.
  1. h. Anak Berbakat (Giftedness and special talents)

Menurut Milgram, R.M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni tari dan seni rupa (Marlan, 1972).

Anak berbakat mempunyai empat kategori, sebagai berikut:

  1. Mempunyai kemampuan intelektual atau intelegensi yang menyeluruh, mengacu pada kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan masuk akal.
  2. Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam matematika, bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam.
  3. Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Pada umumnya mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi.
  4. Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan yang lain.

Dari keempat kategori di atas, maka anak berbakat adalah mereka yang mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul dalam segi intelektual, teknik, estetika, social, fisik (Freemen, J. 1975:120), akademik, psikomotor dan psikososial (Sisk,1987 dalam Amin, M. 1996:3).

Berikut identifikasi anak berbakat atau anak yang memilki kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa[12]:

  1. Membaca pada usia lebih muda,
  2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
  3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
    1. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
    2. Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
  4. Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
  5. Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
    1. Memberi jawaban-jawaban yang baik,
  6. Dapat memberikan banyak gagasan,
  7. Luwes dalam berpikir,
    1. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
  8. Mempunyai pengamatan yang tajam,

m.  Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap

  1. tugas atau bidang yang diminati,
  2. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
    1. Senang mencoba hal-hal baru,
    2. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
    3. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah,
  3. Cepat menangkap hubungan sebabakibat,
  4. Berperilaku terarah pada tujuan,
  5. Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
    1. Mempunyai banyak kegemaran (hobi),

w.  Mempunyai daya ingat yang kuat,

  1. Tidak cepat puas dengan prestasinya,
  2. Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
  3. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
  4. i. Anak Autistik
  • Nilai standarnya 18.

Autism Syndrome merupakan kelainan yang disebabkan adanya hambatan pada ketidakmampuan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak. Gejala-gejala autism menurut Delay & Deinaker (1952) dan Marholin & Philips (1976) antara lain:

  1. Senang tidur bermalas-malasan atau duduk menyendiri dengan tampang acuh, muka pucat, dan mata sayu dan selalu memandang ke bawah.
  2. Selalu diam sepanjang waktu.
  3. Jika ada pertanyaan terhadapnya, jawabannya sangat pelan dengan nada monoton, kemudian dengan suara yang aneh akan menceritakan dirinya dengan beberapa kata kemudian diam menyendiri lagi.
  4. Tidak pernah bertanya, tidak menunjukkan rasa takut dan tidak menyenangi sekelilingnya.
  5. Tidak tampak ceria.
  6. Tidak peduli terhadap lingkungannya, kecuali terhadap benda yang disukainya.

Secara umum anak autis mengalami kelainan dalam berbicara, kelainan fungsi saraf dan intelektual, Hal tersebut dapat terlihat dengan adanya keganjilan perilaku dan ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

  1. j. Hyperactive (Attention Deficit Disorder with Hyperactive)

Hyperactive bukan merupakan penyakit tetapi suatu gejala atau symptoms. (Batshaw & Perret, 1986: 261).symptoms terjadi disebabkan oleh factor-faktor brain damage, an emotional disturbance, a hearing deficit or mental retardaction. Dewasa ini banyak kalangan medis masih menyebut anak hiperaktif dengan istilah attention deficit disorder (ADHD) (Solek, P. 2004:4)

  1. 3. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.

Untuk menangani ABK tersebut dalam setting pendidikan inklusif di Indonesia, tentu memerlukan strategi khusus. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa: sekolah inklusi[13] adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Selanjutnya, Staub dan Peck (1995) menyatakan bahwa: pendidikan inklusi[14] adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis kelainannya dan bagaimanapun gradasinya. Sementara itu, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya perombakan sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, sehingga sumber belajar menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.

Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg, 1995). Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.

Dalam hal ini, ada empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah, yaitu: peraturan perundang-undangan yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia (termasuk ABK temporer dan permanen) untuk memperoleh pelayanan pendidikan, memasukkan aspek fleksibilitas dan aksesibilitas ke dalam sistem pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Selain itu, menerapkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mengoptimalkan peranan guru.

Di bawah ini beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus:

  1. 1. Strategi pembelajaran bagi anak tunanetra

Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan, materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran , antara lain:

  1. Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan induktf.
  2. Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic.
  3. Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu.
  4. Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
  5. Beradsarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media.

Selain strategi yang telah disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu strategi individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku.

  1. 2. Strategi pembelajaran bagi anak berbakat

Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam meneentukan strategi pembelajaran adalah :

  1. Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas.
  2. Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional.
  3. Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk.

Model-model layanan yang bias diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.

  1. 3. Strategi pembelajaran bagi anak tunagrahita

Strtegi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan berbeda dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain;

  1. Strategi pembelajaran yang diindividualisasikan
  2. Strategi kooperatif
  3. Strategi modifikasi tingkah laku
  1. 4. Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa

Strategi yang bias diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, sebagai berikut:

  1. Pendidikan integrasi (terpadu)
  2. Pendidikan segresi (terpisah)
  3. Penataan lingkungan belajar
  4. 5. Strategi pembelajaran bagi anak tunalaras

Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut;

  1. Model biogenetic
  2. Model behavioral/tingkah laku
  3. Model psikodinamika
  4. Model ekologis
  5. 6. Strategi pembelajaran bagi anak dengan kesulitan belajar
    1. Anak berkesulitan belajar membaca yaitu melalui program delivery dan remedial teaching
    2. Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remedial sesuai dengan tingkat kesalahan.
    3. Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidi yang sistematis sesuai dengan urutan dari tingkat konkret, semi konkret dan tingkat abstrak.
  6. 7. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu

Strategi yang biasa digunakan untuk anak tunarungu antara lain: strategi deduktif, induktif, heuristic, ekspositorik, klasikal, kelompok, individual, kooperatif dan modifikasi perilaku.

  1. C. KESIMPULAN

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.