KEBUTUHAN-KEBUTUHAN PENYANDANG TUNANETRA


  1. A.     Kebutuhan akan Pengalaman Konkrit

Untuk menanamkan pengetahuan kepada anak buta tentang kenyataan disekelilingnya guru wajib berusaha untuk memberikan pengalaman konkrit yang beranekaragam seluas-luasnya, jadi sedikit banyak mengompensasikan keterbatasan lingkup dan corak pengalaman anak-anakbuta itu. Bagi anak buta tidaklah penting untuk belajar secara konkrit tentang hal-hal yang istimewa , yang menjadi kebutuhan utama ialah belajar tentang lingkungannya.

 

Kekonkritan di dalam mengajar pada dasarnya dapat dicapai dengan dua jalan :

  • Dengan memberi kesempatan kepada anak-anak mengamati obyek atau situasi secara langsung, atau dengan menyajikan model dari obyek bersangkutan . Realitas, yaitu obyek atau situasi yang sesungguhnya, harus dipilih dalam segala hal, selama dimungkinkan. Anak-anak tentu harus mendapatkan waktuyang cukup untuk mengadakan observasi . Mengatur agar obyek dapat diamati anak-anak sesudah jam pelajaran, sering merupakan sesuatu yang sangat baik. Pada kesempatan mengadakan pengamatan informal serupa itu anak-anak tunanetra  akan saling belajar dari temannya, baik yang awas maupun yang tunanetra . Widyawisata dan Darmawisata akan dapat mengenalkan anak-anak pada berbagai situasi. Situasi-situasi itu akan tetap abstrak bagi anak-anak, tanpa adanya kegiatan-kegiatan wisata itu. Nilai dari wisata- wisata serupa itu tergantuang dari persiapan dan tindak lanjutnya.
  • Memberikan sesuatu yang setaraf dengan ilustrasi visual kepada anak buta, sering dipergunakan gambar timbul, tetapi hasilnya tidak pernah lestari. Garis besar atau kerangka timbul untuk menyajikan benda-benda yang pada dasarnya adalah dua dimensi, seperti daun, garpu, atau seekor kupu-kupu, mungkin dikenal oleh anak-anak buta, dan bahkan gambaran orang akan dimengerti, karena mereka akan menghubungkannya dengan badan sendiri . Jika yang digunakannya adalah hewan tiruan sebagai obyek maka tinggal bentuknya saja yang dapat dipertahankan, sedangkan ukuran dan tekstur telah lenyap. Seringkali ukurannya meleset jauh dari hewan sebenarnya, sehingga anak-anak mendapatkan gambaranyang keliru tentang perbandingan besar  kecilnya berbagai hewan, terkecuali apabila guru senantiasa berhati-hati dan tekun menyadarkan mereka akan kekeliruan-kekeliruan lain. Kadang-kadang sebagai pengganti hewan yang sebenarnya, dipergunakan hewan yang telah diawetkan, oleh karena yang masih hidupitu tidak dapat tenang untuk jangka waktu yang cukup lama, sehingga bagian-bagiannya sukar diamati secara terperinci .

Menanamkan pengertian tentang realitas yang ada disekeliling mereka, bukanlah masalah memperkaya perbendaharaan kata anak, tetapi adalah masalah memberikan rasa relistis tentang lingkungan mereka .

 

  1. B.      KEBUTUHAN AKAN PENGALAMAN MEMADUKAN

Benda –benda yang lebih besar harus diamati dengan gerak raba yang teratur dan didalam banyak hal, hanya bagian-bagian saja diamati  sedemikian itu. Penglihatan memungkinkan penyatuan observasi beserta struktur-strukturnya, dan menyusun kesan-kesan yang secara terpisah diterima oleh indra-indra yang lain. Tiadanya pengalaman menyatu-padukan dalam rangka pembentukan keutuhan harus diimbangi oleh guru-guru, dengan cara memberi kesempatan kepada anak-anak buta mengalami situasi secara menyeluruh, dan menyatukan pengalaman –pengalaman yang sebagian ke dalam keutuhan yang berarti.

Mengajar dengan satuan pelajaran merupakan sarana penting untuk mencapai tujuan ini. Dengan metode ini, anak-anak tunanetra tidak hanya belajar tentang fakta-fakta dari sebuah topik tertentu seperti anak-anak normal, akan tetapi juga akan mengerti bagaimana bagian-bagian terhimpun menjadi obyek, situasi atau topik yang utuh. Kesatuan pelajaran yang dipergunakan anak-anak tunanetra hendaknya tidak mengetengahkan topik yang istimewa melainkan topik yang mempunyai arti sehari-hari, seperti sarana angkutan, kantor pos, bengkel dan pabrik, sawah dan pedesaan, hutan dan apa yang kita makan dan minum .

C . KEBUTUHAN AKAN CARA BELAJAR DAN BERBUAT

                 Sebagi akibat dari kebutaan serta tanggapan lingkungan terhadap cacat itu, maka anak-anak buta umumnya kurang sekali mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan sendiri. Oleh karena itu baim dirumah maupun disekolah, perhatian khusus harus diberikan untuk mendorong anak-anak buta sewajar mungkin  melakukan hal-hal sendiri sesuai dengan waktu yg ada. Keadaan anak buta yang sejak kecil tidak menerima rangsangan visual dari sekelilingnya .

Mereka perlu mempelajari kegiatan rutin sehari-hari dengan cara ditunjukan selama perkembangan mereka , hal ini menuntut usaha, waktu dan kesabaran . Hal ini harus dimulai pada waktu anak berusaha untuk mengerti sesuatu, didalam usaha untuk berpindah-pindah tempat dan dalam bidang umum , seperti : makan, minum, mandi , berpakaian , bermain dan bergaul. Anak buta itu harus didorong untuk mandiri dan mencapai sukses di dalam bidang-bidang tersebut. Semakin banyak situasi yang dikuasainya semakin kuat rasa mandirinya, dengan demikian semakin positif pula citra dirinya. Ini tidaklah berarti bahwa anak buta harus dilindungi terhadap pengalaman-pengalaman negatif dan kekecewaan , ia pun harus belajar tentang kekurangannya. Tetapi pengalaman negatif itu timbul didalam keadaan yang terpaksa selama kehidupan anak-anak buta, sedangkan pengalaman positif perlu diingatkan dan diperkuat.

Telah diakui bahwa rasa aman adalah hasil dari diterima atau tidaknya anak  ditengah keluarga, pada waktu kecil sewaktu ia sedang membentuk diri dan dunianya (formative years). Untuk sebagian besar, ditingkat penerimaan lingkungan terhadap dirinya, menentukan pemberian kesempatan untuk melekukan kegiatan-kegiatan sendiri setidaknya selagi ia masih tinggal dirumah. Didalam menanggapi kegiatan-kegiatan kreatif dari anak-anak buta, para pendidik perlu membiarkan mereka membuat sesuatu berdasarkan konsep dan perasaan mereka sendiri, dan hendaknya jangan memaksakan selera orang normal kepada mereka. Aspek-aspek visual didalam pekerjaan tanah liat tidak relevan bagi anak-anak buta yang berkarya berdasarkan perabaannya dan mewujudkan konsep rabaannya mengenai benda dan peristiwa. Yang penting adalah prosesnya bukan hasilnya .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s